Si Kembar Hilang
Di kasur yang empuk aku rebahkan tubuhku. Butir-butir kapuk menemani siangku
yang cerah nan indah. Suara angin mengibas-ngibaskan gorden kamarku. Awan- awan
bergerak , bernari indah di langit itu. Memberikan aku isyarat bahwa aku harus
melihat mereka.
Aku membukakan jendela kamarku. Tak ada hal
yang menarik yang ada di luar. Hanya awan-awan, rumah penduduk yang saling
berdempetan. Memang kampungku terletak di kawasan Bandung Utara. Sekitar Dago
pakar. Kawasan bandung yang terkenal dengan keindahan alamnya. Dago pakar pun merupakan tempat wisata
yang terkenal di Bandung.
Sejuknya udara, pohon-pohon rindang dapat di
nikmati di daerah Dago Pakar. Tak hanya sejuk dan banyak pohon. Dago pakar pun
terkenal dengan Gua Belanda dan Gua Jepangnya. Konon katanya dahulu kawasan ini
di jajah oleh orang Belanda dan Jepang yang kejam. Gua ini digunakan sebagai
markas tentara Jepang dan Belanda sebagai tempat persembunyian mereka.
Sekaligus untuk merencanakan strategi menjajah.
Peristiwa puluhan tahun silam itu mengubrik di
pikiranku. Betapa hebatnya para pejuang memerjuangkan negara ini. Tak terbayangkan bagaimana jika sampai
saat ini dan hari ini masih di jajah. Mungkin aku akan mengikuti peperangan dan melawan para
penjajah dengan semangat ’45.
Aku akan membuat para penjajah itu lari
terbirit-birit karena melihatku mengeluarkan jurus silatku yang awut-awutan. Ya
hanya jurus silat awut-awutan saja yang aku bisa lakukan.
Saat
aku berjalan, menuju perkampungan yang ada di sebelah. Dari arah belakang, aku
mendengar suara lelaki yang datang menghampiriku.
“halo nona. Mau kemana?” dengan logat inggris medok.
Batinku kaget. Siapakah yang memanggilku?
Tanpa basa-basi lagi aku melirik ke arah belakang. Ada seseorang. Seseorang
itu, berbadan tinggi, tegap, memiliki kulit putih dan berseragam rapih. Tentara
Belanda. Apa yang harus aku lakukan? Suasana hatiku riuh. Tegang bukan main.
Berhadapan langsung dengan tentara Belanda. Waktu aku terdiam. Suara itu memecah
kembali di telingaku.
“hey nona. Jawab dong?” Kali ini dengan nada berbeda.
Sedikit menggoda.
“maaf, tak ada urusannya dengan diri anda jika saya akan
pergi kemanapun.”
“cantik, jawabnya sinis gitu..” Dengan mencoba untuk
mendekat.
Tak ada rasa kasihan, aku langsung meninjunya. Rupanya, dia
terjatuh ke tanah.
Aku jongkok mendekati tentara itu. Tanpa
basa-basi aku tarik kerah bajunya.
“hey dengar kau! Jangan pernah macam-macam kau kepadaku!
Sekali lagi kau melakukan ini, tak ada ampun bagi kau! Camkan perkataanku
tadi!” dilepaskan kerah bajunya olehku. Aku berdiri dan meninggalkan lelaki
kurang ajar itu. Rupanya ia sangat kesakitan.
Aku bangga. Karena aku sebagai perempuan desa
yang mempunyai jurus silat awut-awutan mampu mengalahkan tentara belanda yang
amit-amit. Batinku kali ini tertawa bangga melihat aku seorang yang bisa
membela negara ini. Ayoooooooo semaaaangaaattttt ! si batin terus menyemburkan
api semangat kepada diriku hingga aku merasakan kobaran semangat yang kian
membara. Di tengah kebanggaanku, menuju
perkampungan sebelah. Tiba-tiba, perasaanku kurang enak. Ada sesuatu yang
mengganjal dihatiku. Tapi, aku cepat-cepat membuang pikiran itu.
“nona!”
Ternyata benar dengan perasaanku tadi.
Feelingku benar. Aku menggaruk-garuk kepala ketakutan. Berbeda dengan yang
tadi. Tadi hanya duel satu lawan satu. Tapi, sekaranggggg?? Gerombolan tentara
menghalangi perjalananku. Aku hanya bisa menelan ludah. Glek. Tantangan yang
lebih besar di banding tadi. “aku harus lebih bersiap-siap” batinku
bersemangat.
“ada apa ini?” dengan wajah so calm dan menantang.
Padahal aku takuuut.
“hahaha. Nona ini tidak merasa salah teman-teman.”
Ejeknya.
“hey nona! Pura-pura tidak tau kau! Lihat lukaku!” dengan
menunjuk kewajahnya.
“wajahmu memar.” Ucapku dingin.
“enak sekali kau bilang begini! Pukulan kau sangat sakit
wanita bodoh!”
“kau bilang aku wanita bodoh?” aku marah ketika Dia
mengataiku bodoh. Enak saja Dia mengataiku bodoh. Lihat saja nanti pukulanku
akan melayang lagi tepat di sasaran.
“ya, kau wanita bodoh!”
“terima kasih atas perlakuanmu terhadapku dan negara ini.
Aku tak akan pernah takut dengan segala ancaman kau dan kau! yang tak berguna. ”
Aku
lari meninggalkan gerombolan tentara tadi dengan menyingsingkan rokku ke atas.
Aku lihat ke arah belakang, ternyata mereka mengikutiku. Duhhhhh, bagaimana ini?
Aku seorang perempuan. Sedang mereka lelaki yang mempunyai postur tubuh gagah
dan badan besar-besar. Tega sekali mereka mengikutiku hanya karena hal kecil.
Tapi, Aku lari sekuatnya dan sekencang-kencangya. Aku kayuh kakiku sebisa yang
aku bisa walaupun aku sudah sangat lelah. Aku lihat lagi ke arah belakang.
Malah semakin mendekat. Aku takut aku takut.
Beribu-ribu meter telah aku lalui dengan lari
cepat. Nampaknya mereka masih mengejarku. Suara riuh sepatu beribu-ribu kaki
tentara menghentakkan bumi ini dan menghentakkan hatiku.
Tak ada istirahat, tak ada minum. aku haus,
aku cape Tolonglah jangan kejar aku lagi tentara. Batinku nampaknya sudah
kelelahan. Aku lari lari lari dan lari. Suara tonggeret sudah memecahkan
telingaku.
Tak ada lagi hangat mentari yang menyinariku.
Tak ada lagi segurat sinar di kawasan ini. Suara hentakkan lari sang tentara
terdengar bergema. Kini aku sudah berada
di HUTAN.
Jalanan
becek karena hujan kemarin, tak ada penenerangan. Batin dan fisikku sekarang di
uji. Wajahku sudah memelas lemah, pucat tak karuan, keringat sudah membanjiri
badanku basah kuyup. Aku terdiam sejenak karena rasanya aku akan pingsan
sebentar lagi. Beribu-ribu kunang-kunang sudah memutari depan mataku. Dan kini,
gelap yang aku rasakan.
Clak..
clak... clak... beribu suara itu sudah membangunkan lamunanku. Ternyata hujan.
Sudah lama aku melamun di jendela kamarku. Tapi, mengingat masa penjajahan itu
rasanya aku larut dalam waktu 350 tahun. Aku teringat, tadi pagi menjemur
sepatuku di luar rumah. Tidak lama berfikir aku langsung berlari secepatnya
keluar rumah karena takut sepatuku satu-satunya kebasahan.
“sepatuku! Duh sepatuku kemana? Kok ga ada sih?”
Aku berlari kesana-kemari. Hasilnya, nihil. Tetap tidak
ada.
“kemanakah sepatuku? Itu sepatuku satu-satunya! Tega
banget sih orang yang maling sepatuku!”
Sambil sibuk mencari sepatuku yang hilang. Aku berbicara
sendiri dan marah-marah sendiri. Tetanggaku yang sedang mengangkat pakaiannya
melihatku dengan terheran-heran.
“neng aya naon?nuju miliarian naon? (neng ada apa? Lagi nyari
apa?)”
“oh, henteu bu, pak eh bu. Ieu bu milarian sapatu anu ical duka
kamana. (oh,engga bu, pak eh bu. Ini bu nyari sepatu yang hilang gatau kemana)”
dengan wajah bingung.
“oh kitu. Nya sok atuh pilarian nepi kapendaknya. (oh gitu.
Silahkan aja cari sampai ketemu ya)”
Ibu-ibu itu kembali masuk ke rumahnya sambil tertawa.
“euuhh si ibu lain bantuan. Kalah nyeungseurikeun. (euuhh si ibu
bukannya bantuin malah ngetawain)”
“naon neng? Tadi nyarios naon? (apa neng? Tadi bilang apa?)”
Aku terdiam mematung sejenak. Menelan ludah. Ternyata ibu tita
mendengar perkataanku tadi. Terpaksa deh aku jawab bohong.
“oh, henteu bu. Tadi mah nyarios sapatu kamana. Kitu bu. (oh nggak
bu. Tadi bilang sepatu kemana. Gitu bu)”
“oh kitu nya neng. Sugan teh nyarios naon. Punten atuh nya neng.
(oh gitu ya. Kirain bilang apa. Maaf deh ya neng.)”
“muhun bu wios teu nanaon.(ya bu ga apa-apa)”
“huh untunglah aku gak apa-apa.” Gumamku dalam hati sambil mengusap
dada.
Tetap, setelah aku cari kesana-kemari, mondar-mandir ,bolak-balik.
Itu si kembar gak ada. Kemanakah dia menghilang? Huh, terpaksa besok pagi aku
ke sekolah memakai yang ada dulu. Entah sandal, entah kresek yang aku pakai
besok. Entah yang paling parah aku tidak memakai sepatu.
Tidaaaaaaaaaaaaakkk!!!! Batinku berteriak. Mana mungkin besok aku tidak memakai
sepatu. Sudah pasti besok aku menjadi bahan ejekan. Bahan tertawaan. Bahan
introgasi. Tak terbayang besok aku harus bagaimana. Mungkin aku pasang wajah
malu dan sedih.
Aku masuk rumah. Dengan wajah lesu, badan basah kuyup karena hujan.
“astagfirullaah!dari mana kamu teh?”
“dari luar mah. Hasyimmm hasyiiimm.”
“aduh, pada basah lagi. Ngapain atuh
teh dari luar teh?
Aku langsung diam. Ibu bertanya dari luar abis ngapain? Aduh jawab
apa ya? Walaah, kalo ngasih tau sepatu ilang pasti marah. Gimana ya? Ah, kacau.
Otakku berpikir.
“ngapain teh?”
“emmm, emmm. Itu mah dari luar.”
“ya abis ngapain dari luar teh?”
“itu mah abis,….. eh mah Udah dulu nya. Aisya mau ganti baju dulu.
Tuh, pada basah gini. Bentar ya mah.”
Cepat-cepat aku melemparkan ke pembahasan lain. Aku langsung ganti
baju ke rumah atasku.
∞∞∞
Aku langsung ke bawah setelah selesai ganti kostum. Di dapur aku
melihat ibuku. Ibu sedang makan juga rupanya. Karena perutku sudah
memanggil-memanggil jadi Aku makan di meja makan yang ada di dapurku sebelah barat. sambil makan
aku bercerita kepada ibu bahwa “si kembar hilang”. Ibuku tidak marah. Tapi,
yang aku dapat adalah ceramah. Terpaksa aku dengar satu kata satu kata yang
keluar dari mulut ibuku. Setelah dihitung-hitung olehku setiap kata. Banyak
sekali kata-kata yang begitu indah. Sampai memecahkan hatiku. Hebat sekali
ibuku. Mampu merangakai kata-kata indah dalam waktu sekejap. Sungguh, aku akan
mencalonkan ibuku ke rekor dunia. Aku jamin ibuku yang menang di rekor dunia
nanti.
“kamu mendengar apa yang ibu bicarakan?”
“ya, bu Aisya dengar ko bu.”
“lalu, besok kamu mau pake apa ke sekolah nak?”
“Gatau bu. Kan ibu tau, sepatuku itu satu-satunya yang aku miliki. Gak ada yang lain lagi
bu.”
Ya sudahlah, ribet banget sih mau ke sekolah juga. Pake itu aja!”
ibu menunjukkan jarinya ke rak sandal. Sudah aku kira pasti ibu menyuruh pakai
itu.
“bu, bu. Yang bener aja buu. Masa Aisya pake sandal sih?”
“eh, daripada gak sekolah sok?” dengan wajah tersenyum-senyum
menantang.
“hemm. Ya udah deh bu. Besok Aisya pake itu ke sekolah.”
Aku jawab pertanyaan ibu yang terakhir dengan berat hati. Sebenarya aku
tidak mau. Tapi, karena ini adalah permintaan dari ibuku. Apa boleh buat. Jadi,
aku putuskan besok memakai sandal jepit meskipun dengan berat hati aku
memakainya.
Si kembar yang selalu mendampingiku. Kini, dia pergi begitu saja
tanpa mengabari aku. Mungkin si kembar bukan milikku. Kesedihan dan
keberathatian pun mengisi malamku malam ini. Nampaknya langit dan awan
mengetahui aku yang sedang sedih.
Awan dan langit mendukung kesedihanku dengan menjatuhkan airmatanya
ke bumi ini. Dan tanpa basa-basi lagi. Aku merebahkan tubuhku kembali. Aku akan
melanjutkan kembali kisah perjalananku dengan si kembar dalam penjelajahan mimipiku.
∞∞∞
Kring.. kring.. kring.. alarm berbunyi.
“duh, jam berapa sih?” sambil melihat jam. Jam 03.35 WIB.
“hooaaaammm, masih pagi.” Dengan mengucek-ngucek matanya Aisya berjalan menuju
kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Aku mengambil air wudhu. Meskipun
dinginnya air yang menusuk hingga tulang belakang. Tapi, tak ada pengaruhnya
untukku. Yang terpenting aku bisa shalat malam hari ini.
Adzan Subuh berkumandang. Melantunkan suara
demi suara melalui bantuan sang angin untuk disampaikan ke segala penjuru kota
Bandung. Bait demi bait aku resapi, suara Adzan yang berkumandang melantun
dengan begitu indah. Menggetarkan sekujur tubuhku, merinding, hatiku bergetar
ketika mendengar lantunan Adzan yang begitu menyentuh.
Kesendirian pun menemani subuhku.
Jam menunjukkan pukul 06.05 WIB. Waktunya aku
memakai sandal butut dan siap-siap menghadapi tertawaan orang-orang. Malu bukan
main kali ini. Memakai sandal butut warna kuning menyala di pakai ke sekolah.
Feelingku kali ini yaitu, pasti guru-guru bertanya mengapa aku tidak memakai
sepatu? Bla..bla..bla..dan bla.. bla..
“aha! Aku punya ide!” tiba-tiba otakku mencair
kembali. Sambil tertawa aku mengambil perban dan betadin yang berada di kotak
obat. Sebuah rencana aku susun dengan rapi. Aku belitkan si kain panjang hingga habis. Dan di teteskannya si merah ke
si kain. “beres! Rencanaku akan berhasil. Yeaaah!” batinku tertawa bangga.
Gedebug.preeeengggg. “aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh”. Burung-burung yang
asalnya sedang asyik bercengkrama dengan temannya. Kini beterbangan ke udara
ketika aku berteriak. Teriakanku memecahkan telinga tetanggaku. Bagaimana
tidak, pintu baju yang berada di kamarku jatuh menimpa kakiku. Sakitnya bukan
main. Nyut..nyut..nyut rasanya nyut-nyutan.
Sungguh, sakit ini tak ada bandingannya
dibanding ketusuk jarum. Perbandingannya antara 3:1. Di tusuk jarum tidak
seberapa. Tapi, ketimpa pintu yang beratnya sekitar 5kg sangat seberapa.
Clakk..clakk.. clak.. butiran air mataku membanjiri rok seragamku. Bukan
masalah cengeng atau tidaknya. Tapi, ini berbeda. Menangis karena kesakitan.
Apalagi ketika si merah yang asli keluar dengan deras dari jari jempol kakiku.
Wajahku memucat. Tak tahan dengan si merah yang mengeluarkan bebannya dengan
sangat banyak.
“ya Allah teh. Kenapa kamu?” ibu yang berada
di pintu kaget dan menampakkan wajah yang khawatir.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu. Hanya
bisa meniup-niup kakiku dan mengelap si merah oleh perban. Akhirnya ibu
menghampiriku.
“ya sudah, kamu tidak usak sekolah dulu. Biar sakitmu
mendingan.”
“ta-tapi bu.” Baru saja aku mau menjelaskan. Ibu sudah
memotong pembicaraanku.
“sudah. Sudah ibu bikinin surat aja ya ke guru teteh.”
Tanpa kata-kata yang aku bicarakan lagi, ibu
keluar dari kamarku. Dan nampaknya ibu akan membuatkan surat sakit untukku.
Fiuuh, rencana yang aku susun sedemikian rupa dan berharap agar berhasil. Malah
menjadi kejadian yang nyata. “Aku kapok deh ya Allah ga gini-gini lagi. Malah
aku sendiri yang kena sasarannya.” Gumamku dalam hati.
Ya, ini berarti. Besok pagi memakai si si
butut itu menjadi kenyataan. Dan tak ada kebohongan yang aku lakukan. Aku
bersorak-sorai di dalam hati. Karena si perban dan si merah memang nyata
kebenarannya. “horeeeeeeeeeeeeee.”
Aku bersihkan bercak-bercak si merah yang
menempel di lantai dengan kain basah. Susah. Si merah nampaknya sudah betah
menempel di lantai. Tetapi, aku coba meggosok lebih bersemangat. Yeahh,
akhirnya si merah menghilang juga. Setelah aku membersihkan bercak-bercak si
merah. Aku merasakan kembali sakit di kakiku. Hanya tarik napas dan keluar
napas yang aku lakukan. Untuk meringankan rasa sakitku. Tapi, tetap rasa
nyut-nyutan kembali lagi datang. Sabar.sabar.sabar. wajahku sudah memucat
kembali, keringat dingin mengalir dengan senangnya di sekujur tubuhku.
Plak..plakk..plak (suara tamparan). “duh,
siapa lagi yang sms? Ngagetin aja nih hape. Kirain ada yang di tampar.” Aku
bukakan hape jadulku. 1 pesan dari... aku baca lagi. “hah siapa nih?”
cepat-cepat aku baca lagi sms ke bawah.. ke bawahh.. dan ke bawah. Ternyata
yang sms. Teman dekatku, “bara”. Sms yang kurang penting. Aku tidak sempat
membalas pesan darinya. Yang ada aku membaringkan tubuh lemahku di kasur
kapukku. Tiba-tiba rasa sakitku hilang begitu saja. Kenapa hilang? “asiiikkkk,
makasih Ya Allah” batinku mulai bersyukur nampaknya.
Aku terbangun dari pejaman mataku. Menggaruk
kepala sambil menguap. Hooaaamm. “nikmatnya tidurku ini.” Sambil bangun dari
kasur kapukku. Awwww. “Ko sakit lagi sih?” kataku setengah kaget. Aku baru
sadar, kenapa tadi tidak terasa sakit. Ternyata aku tidur. Walahh, nyatanya
tadi aku hanya mimpi saja. Berarti, aku harus tidur agar rasa sakitku hilang.
Ya ide yang bagus. “oke Aisya.. kini kamu harus tidur. Biar besok pagi kamu
sembuh.” Tegasku kepada diriku sendiri.
Setelah usai melaksankan shalat isya. Rupanya
Aisya benar-benar tumbang. Ditemani ribuan suara airmata dari langit, ia
tertidur dengan lelap.
∞∞∞
Malaikat pagi
Hari ini aku memulai kembali bersekolah. Aku
melangkahkan kakiku dengan gagah. Meskipun dengan keadaan sakit kaki. Tapi, aku
berteriak kepada seluruh dunia “BAHWA SAYA BISAAAA!”. Tak ada yang bisa
menghalangi aku dengan si butut. Akan aku lewati semua rintangan yang ada.
Jalanan becek, licin, banyak lumpur. Itu kecil. Belum seberapa. Aku tekadkan
dalam hati, bahwa apapun yang menimpaku. Aku akan selalu berusaha dan berdo’a.
Baru saja setengah perjalanan. Aku menelan
ludah. Aku harus melewati jalan becek ini? Perasaan pesimisku datang kembali.
Apakah aku bisa? Perasaan itu datang menghantuiku. Dengan sangat berat hati aku
lewati tantangan ini.
Hap..
Hap.. Hap.. gedebuggg!! “aaawwwwwww!!” teriakku. “aduuh... sakit bangeeet.”
Sambil berdiri memegang pantatnya dikarenakan jatuh tepat di sebuah kubangan
lumpur dengan kepala melirik ke kanan, kiri, depan dan belakang.
“fiuuh, ga ada orang untungnya. Jadi aku ga
malu.” Batinku sejenak senang karena tak ada yang melihat kejadian memalukan.
Baru saja batinku merasakan kesenangan dan akan berjalan. Tiba-tiba,
“haha.. kenapa atuh neng ais kalotor gitu? Udah mandi lumpur yaaa?” ejek
pemuda di kampungku.
“hah?
Eh emm. Ehh mm,euhh ini kang. Ini jatoh. hehe” Sambil menggaruk kepala dengan
anggukan kepala dan tertunduk.
“oh jatoh toh.. ati-ati atuh neng Ais ari jalan teh. Tuh
kalotor gitu ih. Bade ka sakola kan?” tanya pemuda itu.
“hehe. Mm-mmuhun kang bade sakola. Tapi, kang ini teh
malah kalotor gini. Kumaha atuh nya?” bingungku datang kembali.
“eh, muhun. Akang teh nyandak motor. Neng Ais bade di
antar ku si akang ganteng ieu?” pedenya keluar tiba-tiba.
Sontak aku terkejut ketika kang fikar berbicara dirinya “ganteng”.
Aku bengong dengan wajah yang mungkin tidak terkontrol.
“heh neng Ais! Kalah ngalamun gitu!” sambil menyadarkan
lamunanku dengan menggerak-gerakkan tangannya ke wajahku.
“eh apa kang? Tanyaku.
“tuh nya.. dengerkeun geura neng Ais matakna. Gini, neng
bade di antar ka sakola? Kitu. Ngartos neng geulis?” jelas kang fikar.
“ohh eta. Eh sanes nyarios atuh kang tatadi.” Sambil
menepuk pundak kang fikar.
“tuh kan, aneh ah si neng mah. Apan tadi teh atos nyarios
nengggggg!”kini, raut muka kesalnya
menyala-nyala.
“hehe. Hapunten atuh kang. Ngambek ah sakitu ge. Bercanda atuh kang Ais mah.hehe, Hayu atuh
kang urang ka sakola?” tawarku ke kang fikar dengan halis mengangkat ke atas
dan ke bawah. Tandanya aku mengajak dirinya.
“hmmm. hayu atuh”. Yang asalnya muka bersemangat. Kini
layu.
Aisya dan kang fikar menaikki motor itu.
“hayu kangggg. Ngebuuuttttt!” seruku kepada kang fikar.
“siappp neng Aisya! Laksanakan! Hehe” jawab kang fikar
dengan senyum lebar. Kini ia tidak layu layaknya bunga mati. Tapi, sekarang
seperti bunga yang mekar. Tersenyum dengan merekah.
“eh
kang, hatur nuhun ya. Punten nya direpotin.” Aku turun dari motor kang Fikar.
“sami-sami
atuh neng Ais. Kanggo neng Ais apa sih yang nggak?” ledek kang fikar sembari
ditemani senyum lebarnya.
“emm,
muhun atuh kang. Ais telat nih kang. Jadi, teu tiasa lami-lami ngobrol. Sakali
deui nuhun ya kan Fikar.” Aku pun balas senyum lebar kepada kang fikar. Sembari
meninggalkannya dengan lari-lari kecil.
“eh,
mangga atuh neng. Tong hilap nya!” kang fikar berteriak kepadaku.
Aku berputar badan. Maksud kang Fikar apa
sebenarnya?
“hah? Tong hillap naon kaaaaang?” tanyaku
bingung dengan suara diteriakkan.
“emm, hehe henteu neeeeeng.” Kang fikar yang
sedang berteriak langsung menunuduk. Entahlah apa yang akan di katakannya. Yang
pasti kang Fikar berubah wajah menjadi kemerahan. Seperti bunga mawar yang
sedang mekar. Merah merona.
Tanpa basa-basi lagi, aku tidak terlalu
memperhatikan keadaan kang Fikar. Aku lari sekencang-kencangnya dengan seragam
yang kotor. Kaki yang sakitpun tak terasa jika di bawa dalam keadaan darurat
seperti ini.
Huh..huh..huh.. kali ini aku merasa cape. perjuangan
berat kali ini terasa olehku. Dari pagi buta hingga sinar matahari mulai
terasa. Dari becek-becekan, jatuh di kubangan lumpur, dan di antarkan oleh kang
Fikar. Aku melewati ruang piket dengan berlari. Tanpa melihat ke isi ruangan
ini. Yang terpenting dan yang ada di benakku kini adalah gak telaatttt.
“Aisyaaaaa!!! Sini kamu!” seseorang
memanggilku dari belakangku.
Glek. Aku telan ludah. Entah apa yang kan di
hadapi olehku kali ini. Rasanya keringat dingin menjalar di seluruh tubuhku.
Antara takut dan bingung. Aku diam setelah ada seseorang yang memanggilku. Mau
menghampiri, aku semakin tak menentu. Tanganku dingin dan berkeringat. Rasanya
aku ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Dengan wajah pucat dan kepala
tertunduk-tunduk aku menghampirinya. Mencoba memberanikan diri meskipun
sebenarnya aku tidak berani.
Ternyata yang memanggilku pak Arman. Jantungku
semakin berdebar. Rasanya mau copot ketika aku mencoba memandangnya. Memang,
pak Arman itu guru killer kami. Tubuhnya yang lumayan tegap.
“a-aada apa pak?” tanyaku dengan keringat dingin bercucuran.
“jam berapa sya sekarang?” pak arman bertanya dengan tersenyum
sinis kepadaku.
Aku melihat jam tanganku.
“jam 8 pak” jawabku dengan ragu.
Pak arman melihat lapangan. Nampaknya dia akan menghukumku kali
ini.
“sekarang, silahkan kamu berlari di lapang itu lima kali putaran.
Dan Jangan menguranginya!” pak arman yang tegas itu tidak dapat dirayu
sedikitpun. Memang sudah sifatnya yang tegas dia disegani oleh semua orang.
“ta-tapi pak?” timpalku dengan hati deg-degan tak karuan.
Pak Arman tak mendengar
keluhanku. Pak arman meninggalkanku sendiri. Rupanya tadi tebakanku benar pak
arman akan menghukumku.
Yaahhh.. sialnya hari ini. Sabar tingkat dewa.
Dengan kaki yang dibaluti kain putih aku berlari. Sakitnya bukan
main. Tapi, karena ini hukuman. Mau gimana lagi? Emang udah nasibku aja kali
ya.
Teman-temanku melihat ke arahku. Tepat ke arahku yang sedang
berlari. Mungkin mereka berpikir si aisyah kenpa ko lari-lari? Mungkin itulah
yang dapat ku tebak dari semua orang yang melihatku. Sedih, Malu, Sakit yang
aku rasakan sekarang. Tuh guru gak kasian gitu sama kau yang lagi sakit kaki.
Tegaaaaaaa…
5 kali putaran lapangan rasanya membuat aku pusing. Bahkan jika
perlu, aku pingsan detik ini juga.
Aku duduk tertunduk. Napasku tersengal-sengal pertanda aku lelah.
“lagi ngapain kamu sya?”
Tiba-tiba saja, ada yang datang menghampiriku. Menyodorkan minuman.
Aku tak melihat siapa yang memberinya. Yang pasti aku cape. Ya aku lelah. Rintihku
dalam hati.
“kamu kenapa sya lari-lari kaya gitu? Kaya
orang gila aja” gerutunya dingin. Membuat
tensiku naik.
“gapapa” cetusku dingin juga.
“kamu telat ya sya?” tanyanya dengan nada
perhatian.
Sembari tadi, aku belum tau siapa orang yang
memberiku minum dan membuat tensiku naik. Dengan perasaan yang penasaran,
akhirnya aku menatapnya ke atas. Wajahnya asing bagiku. Tak ku kenal bahkan.
Dengan sedikit malu, aku bertanya kepadanya.
“kamu murid baru disini?” celetukku dingin
kepadanya.
Dia akhirnya duduk di sampingku.
“iya, aku murid baru disini” lalu dia
menyodorkan tangannya.
“aku Dafa.”
Aku menyalaminya kembali.
“aku Aisya. Salam kenal daf” kali ini aku
tersenyum.
Dafa. Seseorang yang membantuku pagi ini.
Malaikat di pagi hari bagiku. Dia berpostur tubuh tinggi, rambutnya sedikit
acak-acakan, wajahnya yang manis membuatku terbayang-bayang hingga pembelajaran
tiba. Daf, pergi deh dari pikiran gue! Gerutuku dalam hati.
Hari itu, aku hanya memikirkan Dafa. Entahlah
apa yang membuatku terus membayang-bayangkan dia. Mungkin karena efek dari dia
memberiku minum pada saat lari pagi tadi. Jadi, inilah akibatnya. Ahh, kacau
kacau.
Kelasku sepi sore ini. Hanya aku yang sendiri
di ruangan kelas. Aku pulang paling terakhir sore ini. Ditemani kursi dan meja
lah aku diam di kelas.
“belum pulang?” tanya seseorang dari balik
pintu luar kelas.
“keliatannya gimana? Belum kan?” jawabku
dingin.
“iya, kamu belum pulang. Pulang gih. Udah
sore. Atau kamu mau bareng pulang ma aku? Kosong satu nih jok.” Tawaran dia
membuatku wajahku memerah seketika.
“ga usah makasih tawarannya. Bisa pulang
sendiri ko.” Jawabku dengan dingn juga. Padahal, dalam hati “gue pengen banget
pulang bareng lo daf. Pengen banget malah daf.” Gerutuku lagi di dalam hati.
“seriusan nih? Dia meragukan kalau aku berani
pulang sendiri.
“iye, sono pulang aja daf. Aku pulang sendiri
aja. Udah biasa ko pulang sendiri.” Aku mencoba untuk meyakinkannya.
“ya udah, kamu hati-hati ya sya. Cepet pulang
ya.” Nasihat dia lagi-lagi membuatku nge-fly ke angkasa. Dia memberiku nasihat
dengan senyum manisnya. “Daf.. bener deh lo emang malaikat pagi gue.” Cetusku
dalam hati. Rasanya hari ini adalah hari yang paling sedih dan bahagia bagiku.
∞∞∞
Friday, it’s happy day
Lagi-lagi aku memikirkan Dafa. Dia demen
banget sih diem di kepala gue. Kabur dong dafa kabur dari kepala gue. Itulah
yang aku lakukan agar pikiranku tidak selalu tertuju pada Dafa. Memang, dengan
cara ini tidak ampuh. Nampaknya memang ini yang dinamakan jatuh cinta.
Terbayang-bayang dimanapun dan kapanpun.
Ku raih pensilku dan buku sketch book ku.
Renacananya, aku akan menggambar. Agar bisa melupakannya sejenak saja.
Ku goreskan isi pensil itu. Ku ukir dengan
penuh penghayatan. Tak lupa dan tak sadar, aku tersenyum-senyum sendiri melihat
gambar itu. Ya, Dafa sudah ada dalam
buku sketch bookku. Dia mirip sekali dengan dafa yang nyata. Sayangnya, dia
berada dalam dimensi yang berbeda. Berada dalam dimensi gambarku.
Bosan dengan hobiku, aku meraih handphone ku.
Handphone jadul yang hanya bisa digunakan untuk sms dan menelpon saja. Tertera
di layar handphone ku 5 sms. Pesan pertama dari temanku dara, pesan kedua dari
bara, pesan ketiga dari nina, pesan keempat dari nomor asing dan pesan terakhir
dari seseorang. Ya, dia farhan. Seseorang yang pernah mengisi hatiku.
Aku tak membalas mereka semua. Dengan alasan,
aku malas membalas dan habis pulsa.
Tak terasa olehku. Detik-detik Ujian Nasional
sebentar lagi akan di mulai. Mungkin sekitar beberapa minggu lagi. Mendengarnya
pun setres. Apalagi mengerjakan soalnya. Semoga saj aku baik-baik saja.
Ku putuskan malam ini aku akan belajar di
tempat kesayanganku, di meja belajar dekat jendela kamarku.
∞∞∞
Suara riuh anak-anak membangunkan lamunanku.
Untunglah, Dafa tidak sekelas denganku . Apa jadinya kalau Dafa di kelasku?
Bisa-bisa aku menjadi patung jadi-jadian karena lama mematung dan tak bicara.
Dafa berada di kelas 9f sedangkan aku di kelas 9e. Lebih tepatnya, kelas kami
berdampingan.
Setiap aku melewati kelas 9f, yang terbersit
dalam pikiranku adalah Dafa. Sekali-kali
aku melirik kelas itu. Dan aku mencari Dafa. Tepat sekali, dia duduk di dekat
jendela dan duduk dibelakang. Baguslah. Jadi, ada kesempatan besar untukku agar
dapat melihatnya ketika aku melewati kelas 9f.
Bel istirahat berdering dengan nyaring.
Anak-anak berduyun-duyun untuk jajan ke kantin bu asih. Disana, anak-anak bisa
sepuasnya jajan dengan enak, murah dan kenyang. Gorengan lah yang menjadi
jajanan terlaris. Selain enak dan murah, jajanan ini pun mengenyangkan. Selain itu, makanan ringan pun menjadi
makanan laris bagi anak perempuan yang suka ngemil.
“bi, semuanya ini jadi berapa?” tanyaku pada
bi asih.
“3000 neng. Ga nambah lagi neng Aisya?” bi
asih merayuku kali ini.
“haha.. ah bibi. Udah ah bi. Cukup segini aja.
Kalu di diskon sih mau bi.” Godaku pada bi asih.
“ah, neng bisa aja ah. Nih kembaliannya.
Makasih ya neng.” Bi asih tersenyum kepadaku. Akupun mengangguk menandakan aku
pun berterima kasih pada bi asih.
Aku berjalan dengan temanku Dara. Kami
bercakap di sepanjang perjalanan menuju kelas. Tiba-tiba..
“eh ada bocah yang jajan nih” sosok itu lagi
yang membuatku kaget. Dafa selalu datang dan berbicara secara misterius. Tanpa
bisa ku tebak sebelumnya. Dia duduk di pelataran mesjid dengan jaket abu-abunya
dengan polesan garis-garis putih di lengannya.
“terus kenapa kalau aku jajan?” aku mencoba
dingin lagi dan memasang wajah jutek. Sebenarnya, aku tak ingin jika aku
memasang muka seperti ini. Aku ingin sekali ketika aku bercakap, bertemu dengan
Dafa aku memasang wajah yang ramah dan manis. Tapi, aku tak bisa. Aku belum
bisa untuk seperti itu. Aku malu.
“sewot amat sih lu cah jawabnya. Aku cuman
nanya aja ko sya. Kira aja, bisa nraktir. Hehe” godanya kepadaku.
“maunya di traktir! Jajan aja sendiri” aku
meninggalkannya dengan menjulurkan lidah. Tak sepantasnya aku seperti itu. Duh
sya sya..
Aku tak melihat bagaimana ekspresi Dafa
selanjutnya. Yang pasti, aku malu. Sangat malu.
“eh sya, nanti pulang sekolah junior mau pada
latihan tuh. Kamu mau ikut ngelatih ga?”Ucap nina mengajakku.
“mm.. bebas. Tapi, ya okelah. Aku mau
ngelatih. Kangen nih sama anak junior. Hehe” jujurku pada nina.
Jum’at ini, memang jadwal latihan
ekstrakulikuler Pramuka di Smp. Sebagai senior, akupun wajib untuk melatih.
Latihan kali ini aku cukup bersemangat.
Anak-anak junior pun nampaknya senang dengan adanya senior melatih. Keberadaan
kami, membuat mereka bersemangat dan tertawa bersama. Ya, aku senang menjadi
senior. Karena bisa mebuat anak-anak tersenyum dan bersemangat.
Memang, angkatan pramuka ku dapat dikatakan
angkatan pramuka paling seru. Kami, mengajak para adik junior agar ceria dan
serius. Pada saat latihan, kami mengajarkan keseriusan namun santai. Pada saat
istirahat, kami mengajak adik junior untuk bercanda, bermain permainan, dan
curhat bersama.
Dibalik pintu itu, aku rasa ada seseorang.
Namun aku tak tau siapakah itu. Aku
mencoba untuk mendekatinya. Ku lirik dengan berhati-hati agar tidak mengagetkan
dia. Dugaanku benar, si mr. Misterius yang ada di balik pintu itu. Tanpa
berbasa-basi dan berkata-kata aku minggalkan tempat itu. Fiuuh.. untunglah dia
tidak melihatku.
“kamu ngelatih anak-anak ini?” tanyanya di
balik pintu.
Pertanyaan ini mengagetkanku seketika. Aku
yang baru saja meninggalkan tempat itu, nampaknya bukan penghalang baginya
untuk bertanya.
“iya. Emang kenapa?”aku balik bertanya
kepadanya.
Di balik pintu itu, dia berdiri mematung
dengan mengenakan jaket andalannya. Jaket abu-abu dengan garis putih di
lengannya. Menjadi ciri khas dirinya. Tak lama aku bertanya, dia menghampiriku.
“gapapa sih. Cuman, punya jiwa solid juga ya
kamu. Mau Ujian gini aja, kamu masih tetep mau ngelatih.” Ucapnya dengan senyum
termanis yang dia milikki.
Dalam hati, ni orang baik bener sih. Perhatian
banget. Udah cakep, baik lagi. Aku kagum ke kamu deh Daf.
“yaiyalah, jadi seorang Pramuka sejati itu
harus bisa solider. Lagipula, kewajiban juga jadi senior itu harus menurunkan
ilmunya ke adik-adiknya.” Aku menceramahinya dengan tak sadar.
Ku lihat, dia tersenyum lagi. Memang Dafa
adalah lelaki yang baik, ramah, misterius, nyebelin, perhatian dan memiliki
senyum yang begitu manis. Aku gak nyesel kenal dia.
“cieelah, pramuka sejati? Aku juga anak
pramuka ko. Jangan salah.” Dia membela diri kali ini.
Whaaatttt? Dia anak pramuka juga?. Aaah,
semakin aja deh aku mengagumi dia. Aku tanya dia lebih detail kali ini.
“anak pramuka? Seriusan?” tanyaku antusias. Ku
harap, dia menjawab pertanyaanku dengan antusias juga.
“iya, di smp ku dulu aku anak pramuka. Aku
juga seorang senior kaya kamu. Malah, aku tebus LT 3 waktu itu.” Dia menjawab
pertanyaanku dengan penuh antusias.
“wow. Hebat juga ya. Ceritain dong daf.” Kali
ini, aku bercakap tidak sedingin waktu itu.
“males cerita ah. Lain kali aja. Aku ikut ngelatih
ya ? boleh ga?” tanyanya dengan penuh harapan.
Aku diam mematung sejenak.
“pelit amat lu ah gamau bagi-bagi pengalaman. Kalau
emang mau dan bersedia, silahkan aja.” Jawabku dingin kembali.
Aku bersorak riang kali ini. Dapat dikatakan,
aku bisa melihat dan memandang dia lebih lama. Horeeeeeeeeeeeee batinku
berteriak kencang.
Jam 5 lewat 15. Waktunya kami pulang ke rumah
masing-masing. Adik-adik junior ku menyalami kami sebagai kakak seniornya. Ada
yang di jemput oleh orang tuanya, ada yang pulang sendiri, ada yang naik angkot
dan aku sendiri memilih untuk naik angkot.
Ajakan dari Dafa, ku tolak juga untuk yang
kedua kalinya. Sebenarnya aku ingin dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan besar
ini. Namun, nyaliku tampaknya ciut dalam hal seperti ini. Semoga, untuk ajakan
ketiga kalinya aku tidak menolaknya.
Aku membaringkan tubuhku sejenak. Remuk
rasanya badanku kali ini. Seharian penuh melatih adik junior. Ku tatap atap
langit-langit kamarku. Ku bayangkan semua peristiwa tadi. Hingga aku
tersenyum-senyum sendiri dan merasakan terbang ke angkasa. Senangnya hari
ini....
∞∞∞
Misteri di kebun jagung
Ujian Nasional tinggal beberapa hari lagi.
Nyaliku kali ini di uji. Persiapan fisik dan mental sudah ku siapkan di mulai
dari sekarang. Permintaan do’a pada kedua orang tua sudah ku lakukan. Tinggal
menunggu dan mengerjakan soal dengan tenang.
Persiapan fisik dan mental pun belum cukup. Spiritual pun harus
lebih di persiapkan dengan matang.
Aku berjalan menuju mading di sekolahku. Hanya
sekedar untuk membaca dan penghilang
rasa bosan saja bagiku. Kertas-kertas tentang berbagai berita tertempel dengan
rapi di mading. Dari berita seputar sekolah, berita luar, berita tentang
kepramukaan, berita olahraga dan berita
tentang keagamaan.
Tiba-tiba saja, mataku tertuju pada salah satu
berita. Kertas yang di tempel cukup menarik. Dengan hiasan pohon dan mesjid yang
berwarna hijau dan biru, memberikan suasana ketenangan. Aku baca dengan
seksama. Berita itu menarik minatku. Ya, berita itu sedang di butuhkan olehku
kali ini. “ Sukses UN dengan Motivasi dan Muhasabah bersama “. Ini yang kucari
beberapa hari ini. Tanpa basa basi, ku ambil kertas ini.
“vir, coba lihat nih ada doa bersama sebelum
kita UN.” Aku menunjukkan kertas itu pada Vira. Ajakku pada vira teman ku di
Pramuka semoga tidak sia-sia.
“wah, bagus nih sya. Aku juga lagi butuh
penenang nih sebelum Ujian. Eh, emang kapan nih acara?” dia nampaknya berminat juga dengan ajakanku.
“sini sini.” Aku mengambil kertas itu dari
tangan vira. “Aku bacain deh. Denger yah, Acaranya tanggal 17-18 April 2013. Bertempat di mesjid
Daarurt Tauhid bandung. Acara dimulai dari jam 17.00 sampai jam 08.00 pagi.
Artinya, kita disana nginep vir. Gimana, berminat ga?” tanyaku dengan harapan
semoga saja dia mau dan berninat.
“nginep? Yang bener aja sya?” dia terkejut
pada saat aku berbicara menginap satu hari. Padahal bagiku ini bisa jadi
pengalaman dan tantangan.
“iya lah nginep. Emang Vira mau kita
malem-malem pulang dari Daarut Tauhid, terus di jalan ada apa-apa? Kan jauh Vir
Daarut Tauhid itu. Dari sini, mungkin sekitar 1 jam 2 jam.” Jawabku dengan
meyakinkannya. Dia tampaknya ragu dengan ajakanku. Memang, Vira itu seorang
anak yang dapat dikatakan penaknut. Tapi, dia adalah seorang teman yang begitu baik dan memiliki wajah yang
cantik.
“mmm. Aku sih mau Vir. Tapi, apa boleh ga ya
sama bapakku? aku ga yakin nih bapakku bakal ngijinin.” Ucapnya terdengar
pesimis. Dari raut wajahnya, dia pasti ingin sekali mengikuti acara itu. Namun,
orang tuanya terlalu mengekang dia untuk pergi kemana-mana. Maklumlah, anak
perempuan satu-satunya.
“aku yakin ko, kamu pasti di ijinin.”
Celetukku dengan senyum semangat.
“tau dari mana kamu sya? Sotau deh ah.” Raut
wajahnya kini semakin tak bersemangat.
“gini nih sya” sambil merangkul pundak Vira.
“denger baik-baik ya. Ada ga orang tua yang
ngelarang anaknya buat ngedoa bareng? Ga kan? Orang tua pasti setuju aja Vir
kalau kegiatan itu emang positif dan baik buat kita. Asalkan kita emang
bener-bener aja dan ga ngeboongin orang tua. Iya kan?” nasihat kua sotau pada
Vira di dengar seksama oleh Vira. Dia kembali mgembangkan senyumnya.
“lu bener sya. Semoga aja ya aku di ijinin.
Nanti deh aku kabarin lagi besok siang lewat sms. Gimana?” tanyanya padaku
dengan penuh semangat.
“ok. Besok aku tunggu ya smsnya. Jangan lupa
ya Vir!” aku meninggalkan dia dan berpamitan untuk pulang.
Di perjalanan menuju rumah, aku berpikir dan
kembali membayangkan Dafa. Sebenarnya, aku ingin sekali mengajak Dafa untuk
mengikuti Doa bersama ini. Namun, sekali lagi. Nyaliku ciut jika menghadapi
Dafa. Ku ajakki sahabatku, namun dia tak bisa mengikuti acara itu dikarenakan
masih ada acara yang jauh lebih penting dari ini. Aku hanya menghela napas.
Semoga saja Vira jadi untuk ikut ke acara itu. Agar aku, ada teman untuk
sekedar bercakap di perjalanan.
Waktu pun datang dengan begitu cepat. Seperti
kereta, dia berjalan begitu cepat dan sulit untuk di hentikan. Kali ini, aku mendapat berita yang menyenangkan.
Vira jadi untuk ikut. Yeaaahh batinku berteriak dengan senang.
Ku persiapkan segala barang yang menurutku
penting. Di mulai dari alat tulis, minum, makanan, mukena, al-qur’an dan uang.
Semua itu tak ada yang boleh teringgal.
Setelah berpamitan pada ibuku dan bapakku, aku
pergi sendiri menuju pemberhentian
angkot. Ibuku nampaknya khawatir seorang anak gadisnya akan bepergian jauh
tanpa di antar. Namun, aku meyakinkannya dengan kebranianku pergi sendiri.
Kebun jagung yang sedang panen, membuat soreku
ini menjadi lebih berwarana. Kuning yang menghiasi buah jagung, sama seperti
langit yang dihiasi oleh kungnya sinar matahari. Sinar sore itu, membuat hatiku
menjadi tentram dan damai.
Langkahku, kubuat dengan perlahan. Agar aku
dapat merasakan sorenya di kebun jagung yang sedang panen. Namun, langkahku
terhenti ketika ada seseorang yang berhenti di depanku menggunakan motor.
“maaf pak, saya mau lewat.” Kataku dengan
hati-hati.
“oh, neng mau lewat. Lewat aja neng.
perkenalkan bapak ketua partai terkenal.” Sambil menyodorkan tangannya.
Hatiku berdegup kencang. Baru kali ini aku di
lakukan seperti ini. Keringat dingin mengucur tak henti-henti di tubuhku.
Pikiran pun sudah negatif dan rasanya aku ingin lari sekencang-kencangnya.
Lelaki itu, berbadan tegap. Sedikit gemuk, kemejanya bercorak
kotak-kotak dan berwarna pink. Topi koboy coklat yang dikenakannya membuat aku
takut meskipun ini dalam hal penampilan. Matanya yang sayu pun menggambarkan
dirinya telah bermabok.
“maaf pak. Saya tidak ada waktu untuk hal
seperti ini. Permisi pak.” Kali ini aku lari. Aku mengangkat rokku dan lari
sekencang-kencangnya. Saat ku lihat lelaki itu, lelaki itu sedang melirikku
sinis. Nampkanya dia akan berkata sesuatu tentangku.
“hey kamu
main lari aja! Lihat nanti kamu akan habis olehku!.” Dia berteriak
dengan berkata tersengal-sengal. Terlihat olehku, dia marah padaku karena aku
tidak meladeninya untuk ngobrol. Wajahnya merah dan jarinya menunjuk-nunjuk padaku.
Lariku kali ini sedikit memperlambat. Pikiran
negatif berkecamuk di otakku. Begini lah pikiran negatifku. Mungkin, ketika aku
sedang berlari lambat, dia mengikuti dengan motornya di belakangku. Lalu, dia
membekam mulutku dengan bius dan pada akhirnya aku di bawa olehnya untuk pergi
jauh. “Ihhhh.. aku merinding memikirkannya. Semoga saja pikiranku itu tidak
kenyataan” Batinku berkata.
Ku lihat ke arah belakang. Dengan ragu-ragu
aku meliriknya. Sambil terus berlari aku melirik ke arah belakang. Dan berharap
dia sudah tak ada di jalan itu.
Syukurlah.. rupanya, aku masih di selamatkan
kali ini. Lelaki itu sudah pergi tanpa meninggalkan jejak. Hanaya
kata-katanyalah yang membuat aku ketakutan dan terbayang-bayang.
Tempat pemberhentian angkot itu, sudah ada di
depan mataku. Sambil beristirahat dan menghela napas aku menuggu angkot segera
datang. Vira akan menungguku di jalan pahlawan. Aku pun memilih angkot yang
jurusannya menuju jalan pahlawan.
Jalanan lumayan sepi. Cahaya kuning dari
matahari, kini kian meredup. Aku terdiam sendiri di dalam angkot itu. Mungkin,
lelaki tadi itu setres atau gila. Kalaupun waras, mungkin dia berpikir. Bahwa
aku ini permpuan yang mengenakan jilbab. Bahkan pakainku pun tidak senonoh. Rok
hitam, jaket hitam, tas hitam, kerudung putih. Tak ada yang membuat
ketertarikan. Seharusnya dia tidak memperlakukan aku seperti itu. “Lelaki
aneh!” Kesalku dalam hati.
Aku dan vira menelusuri perjalanan yang cukup
jauh. Jalan dipati ukur kami tembus dengan angkot Caheum ledeng. Gedung sate
terlihat indah dengan lampu-lampu yang menghisai di sekelilingnya. Menjadikan
sore ini, sore yang terang dengan lampu. Ketakutanku, terbayarkan oleh
perjalanan yang menyenangkan ini.
Kronologi perjalananku, ku ceritakan secara
detail pada Vira. Dia terkejut dengan ceritaku. Namun, dia pun tersenyum bangga
karena aku masih berani saja melakukan perjalanan.
∞∞∞
Pertemuan Indah..
Hujan rintik-rintik melengkapi keceriaan kami
berdua. Dialog demi dialog kami utrarakan satu sama lain. Kami sangat senang
dengan perjalanan ini.
Acara sudah mulai sekitar 15 menit yang lalu.
Aku dan Vira terlambat. Senyum-senyum panitia membuat aku merasa lebih tenang.
Ku tuliskan namaku di buku tamu beserta asal sekolah, email dan nomor kontak.
Semuanya ku isi dengan lengkap. Akhirnya, aku pun memasuki ruangan besar
tersebut bersama Vira.
Riuh suara peserta membuat suasana gaduh dan
tak teratur. Akhirnya, panitia turun tangan untuk menenangkan suasana.
Acara terpotong dengan istirahat dalan shalat
maghrib. Mesjid yang besar dan nyaman membuat hati ini semakin tenang. Acara
akan di mulai setelah isya.
Akhirnya, acara motivasi dan muhasbah akan di
mulai. Para peserta nampaknya sudah tak sabar dengan acara ini. rangkaian acara
ini di buka oleh sang MC. Dua pemuda yang menjadi MC membawakan suasana menjadi
lebih hidup. Mereka meberikan berbagai lelucon dan tebak-tebakkan yang membuat
kami tertawa bersama.
“saya akan menyumbangkan suara emas saya untuk
adik-adik sekalian. Selamat mendengarkan” ucap sang MC dengan tersenyum.
Suaraemas itu, nampaknya biasa-biasa saja
bagiku. Itu hanya suara perak menurutku. Hanya saja, musik itu membuat kami
terhibur dan bernyanyi bersama.
Gedung dipadadati dengan suara peserta yang
bersorak dan bertepuk tangan. Nyanyian itu berhenti ketika kami bertepuk tangan
dan bersorak.
“bagaimana adik-adik suara emasnya?
Terhiburkaaah?” ucapnya lagi dengan suara yang semangat.
“terhibuuuuuuuurr” jawab semua peserta dengan
penuh semangat juga. Terkecuali aku, aku lumayan terhibur.
“baiklah, saya akan memperkanalkan diri. Nama
saya Farhan. Lengkapnya Farhan Yudinugraha. Kalian bisa panggil saya kakak
Farhan atau Kak yudi. Dan saya pun akan memperkenalkan teman saya juga. Dia ini
teman seperjuangan saya. Yu kita panggil sama-sama... kak zulfiiiiii...” sambil
mengajak temannya untuk memperkenalkan diri.
“ehem.. baiklah kak Farhan. Halooo
semuaaaanyaa” ucapnya semangat dan ramah.
“halooooooooo” jawab peserta dengan kompak.
“oke.. nama kakak, kak Zulfi. Nama
lengkapnya, Muhammad Zulfi. Kalian cukup
panggil, kak zulfi.” Dia memperkenalkan diri dengan sangat ramah. Bahkan,
senyumnya pun tak terlewatkan olehnya.
“baiklah kak zulfi. Adik-adik kayanya udah ga
sabar nih sama acaranya. Gimana kalau kita mulai aja acaranya?” tanya sang MC
dengan ceria.
“iya nih kak Farhan. Hayulah kita mulai aja.
Wajah-wajahnya, wajah udah pada ga sabar nih.” Candanya membuat kami tersenyum
terhibur.
“baiklah.. adik-adikku. Inilah acara yang di
tunggu-tunggu... acaraaaa... SUKSES UN DENGAN MOTIVASI DAN MUHASABAH BERSAMA..
selamat menyaksikan.” Ucap 2 MC dengan teriakkan yang membangun semangat.
Teriakan dan sorak sorai menggemparkan gedung
itu. Motivasi di bawakan dengan penuh semangat. Kami pun menikmatinya dan
terbawa suasana semangat. Nampaknya, para peserta telah terbawa arus sang
Motivator.
Motivasi itu telah menggemparkan hati kami
juga. Rasa semangat menggelora di dada kami. Semoga saja, semangat ini tidak
luntur ketika akan menghadapi Ujian nanti. semoga....
“vir, keren ya tuh acara?” tanyaku penuh
semangat pada vira.
“iya sya. Ga nyesel deh aku pergi kesini.
Makasih sya ajakannya. Kalau kamu ga ngajak, mungkin aku ga akan bisa
sesemangat ini. Thank’s ya sya.” ucapnya dengan semangat yang berkobar.
“haha.. iya, nyantai aja sya. Kewajiban juga
buat ngajak ke tempat yang baik. iya kan?” jawabku dengan yakin. Vira
tesrsenyum dengan jawabanku tadi.
Vira. Seseorang yang sangat perasa. Jika ada
masalah, aku lah yang menjadi pelariannya. Aku menjadi konsultan dia di
sekolah. Berbagai macam masalah, pastilah dia mencurahkannya padaku. Dari
masalah pacarnya, masalah teman sekelas, masalah sepele hingga masalah yang
besar. Aku tuntaskan hingga semua permasalahannya selesai. Tak heran, dia
menjadi teman dekat denganku sejak kelas 8 dulu.
Semua sibuk dengan motivasinya masing-masing.
Mungkin, berbagai motivasi menggelantung di pikiran masing-masing. Ruangan ini
sesak dengan motivasi yang sudah menggelegar. Semua orang memiliki tatapan yang
berbinar. Tak seperti sebelumnya, yang lesuh dan tak ada motivasi.
Perkenalan pun menjadi satu tujuan acara ini.
Dimana seseorang yang belum pernah bertemu dan tak pernah bercakap, kini dengan
adanya perkenalan kami dapat mengenal satu sama lain. Istimewanya sebuah
perkenalan, dapat mengenalkan satu manusia dengan manusia lainnya meskipun
sebelumnya satu manusia itu dengan manusia lainnya belum pernah bertemu.
Indahnya perkenalan.....
Aku belum mengenal siapa yang ada di sebelah
kanan ku, siapa yang di belakangku, dan aku pun belum mengenal siapa yang ada
di depanku. Hanya Vira yang ku kenali di sebelah kiri ku. Aku masih malu dengan
namanya perkenalan. Apalagi jika aku yang mengawali. Lebih baik aku diam saja.
Tapi, aku iri juga pada Vira yang sudah
mendapatkan beberapa orang teman. sedangkan aku, belum satu pun yang aku kenali
bahkan ku jadikan teman.
Dengan keirianku, akhirnya aku bisa berkenalan
dengan beberapa orang. Meskipun awalnya, aku malu. Tapi, aku mencoba untuk
tidak gugup di hadapan orang itu.
Dengan memulai jabat tangan, aku
memperkenalkan diri dengan senyum terbaik yang ku punya.
“Aisya. Lengkapnya, Aisya Zahra Fanida.”
“Marha. Lengkapnya, Marha Dini Azzakia.”
senyum lebarnya membuatku membalas senyumnya kembali.
“kamu dari mana sya?” tanyanya dengan
penasaran.
“oh, aku. Aku dari Smpn 19 bandung. Kamu
sendiri dari mana?” tanyaku kembali.
“aku dari Smpn 6 Bandung. Salam kenal ya sya.”
senyum lebarnya kembali mengembang.
“oh iya, tentu mar. salam kenal juga ya.” kali
ini aku senyum selebar-lebarnya, agar dia dapat mengenang senyumku yang begitu
amat sangaaaaat manis.
Dengan modal Handphone, aku pun bertukar nomor
telpon dengan Marha. Dengan harapan, agar pertemanan kami tidak putus sampai
disini. “Selamat bergabung ke dunia pertemananku Marha.. Ku harap kamu bisa
jadi teman baikku.” Batinku berkata.
Malam
begitu cepat menghampiri. Dinginnya malam terasa hingga menusuk. Untunglah, aku
memakai jaket kesukaanku. Si hitam telah melindungku kali ini.
Di
ruangan yang ramai itu, Sang MC pun menanyakan sebuah pernyataan. Tanpa
menggubris sesuatu lagi, aku langsung mengacung. Kak Farhan akhirnya
membenarkan jawabanku. Lalu, dia mengambil sesuatu di balik jaketnya. Di balik
jaketnya itu, ternyata ada sebuah buku. Buku kecil mengenai agama Islam. Ya
tentu aku sangat senang, karena buku pasti bermanfaat sampai kapanpun.
“oh iya namanya siapa? asal dari mana?” tanya kak farhan
padaku.
Aku menjawab pertanyaan dari kak Farhan.
“saya Aisya Zahra Fanida kak. Asal dari Smpn 19 Bandung.”
“oh, ya iya. ini nih bukunya ambil.” sambil memberikan
bukunya padaku.
Aku pun mengambil buku itu dari kak Farhan.
Seulas senyum ku berikan padanya. Dia pun membalas senyum ku.
Malam
ini, aku mendapat hadiah yang sangat indah. Buku yang bagus, motivasi yang
menyentuh hati. Satu paket oleh-oleh untuk hati sudah ku kantongi. Tinggal
meminta restu pada orang tua, lalu mengerjakan soal. Hanya tarikan nafas dan
lantunan do’a lah yang menjadi pegangan ku.
Mataku
sudah tak bisa di ajak kompromi lagi. Rasanya, aku ingin pingsan di tempat
karena ngantuk berat. Ini sudah 5 watt, bahkan lebih.
Vira dan
aku tidur di sebuah ruangan yang tentunya, khusus untuk wanita. Tak lupa juga,
marha tidur bersama kami di ruangan ini. Dinginnya kota Bandung terasa hingga
menusuk ke tulangku. Apalagi jika pagi petang nanti, mungkin Vira, aku dan
Marha menggigil kedinginan. “Siapkan fisik mu sya.” batinku menasehati.
Seperti dugaanku, pagi ini pagi yang sangat
dingin. Memang di kawasan ini, kawasan yang dekat dengan Lembang. Pantas saja
jika dinginnya hingga menusuk tulang.
Pukul
03.00 pagi, kami bangun untuk melaksankan Shalat Tahajud bersama. Air mengalir
dari keran untuk di pakai olehku berwudhu. Air jernih yang dingin pun membasahi
wajahku. Rasa segar dan dingin bercampur menjadi satu. Aku, Vira dan Marha
menggigil kedinginan. Kami pun pergi menuju Masjid.
Usai
Shalat, kami keluar untuk berdo’a bersama di gedung. Pada saat aku keluar
menuju gedung. tiba-tiba...
“gith..” panggil seseorang dari arah meja panitia.
Aku segera mencari sumber suara. Aku langsung menuju meja
panitia.
“iya, ada apa ya?” tanyaku pada seseorang itu.
“sini dulu sebentar. Tolong tuliskan nama, asal sekolah,
hobi, cita-cita. Nanti, kamu di wawancara ya. amsuk Radio. ok?” tawarannya
membuat aku jadi gugup.
“hah kak? wawancara?masuk radio? ga ah, ga mau. malu
kak.” timpalku dengan gugup.
“biasa aja kali ah, apapa ko gith. Cuman di tanya kesan
dan pesannya aja. Gampang kan? nih isi dulu aja kertasnya.” ucapnya dengan
menyebalkan.
“mmm. iya kak.” ucapku dengan malas. Aku langsung mengisi
apa yang di perintahkan kak Farhan untukku. Dan langsung ku berikan kembali
kertas itu.
Malu dan bahagia yang aku rasakan. Malu karena
nanti akan di wawancara, bahagia karena suara emasku nanti akan masuk ke radio.
Tak lupa, aku kabari ibuku agar beliau dapat mendengarkan suaraku melalui
radio.
Wawaancara itu sebentar lagi akan di mulai.
Hatiku berdegup kencang, tidak seperti detak jantung yang biasa ku rasakan. Ini
sangatlah mengganggu ketenanganku.
“Bagaimanakah kesannya asetelah anda mengikuti
acara Motivasi ini?” ucap sang pembawa acara bertanya padaku.
Di tengah kerumunan orang, aku menjawab pertanyaan
itu dengan lancar meskipun aku harus melawan rasa gugupku sebelumnya.
“selama saya mengikuti acara ini, saya memiliki pengalaman yang sangat
berharga. Lalu, dengan adanya Motivasi seperti ini, saya sebelum ujian bisa lebih
optimis dan percaya diri. Selain itu, pertemanan saya dengan orang lain lebih
ban yak.” dengan senyum, ku jawab tuntas tanpa ada ragu sedikit pun.
“baik, lalu apa yang menjadi pesan anda untuk
acara seperti ini lagi?”lanjut sang Penyiar.
“pesannya, bisa lebih di persiapkan lagi
dengan baik. lalu, tahun depan ada lagi acara seperti ini.” jelasku pada sang
Penyiar.
Suara ku mengalir jernih di radio. Pasti ibu
sedang mendengar suara ku di radio. Semoga...
∞∞∞
Pertama dan Terakhir
Ujian tinggal 3 hari lagi. Pelajaran demi
pelajaran harus sudah memasuki otak. Bisa tak bisa harus bisa. Aku masih belum
mempersiapkannya dengan matang. Otakku jenuh. Sangat jenuh..ahhh!
Aku membuka layar handphone ku. Ada beberapa
pesan yang masuk kehandphone ku. Dari temanku Vira dan satu lagi, belum ku
kenal nomernya. Nomer asing yang masuk ke layar handphone ku. Segera aku
membuka pesannya. Tertera suatu pesan tentang hadits. Aku mebacanya dengan tak
berkedip. Siapakah pengirimnya? Batinku penasaran.
Belum tertebak olehku siapakah pengirim pesan
itu. Suatu sangkaanpun tak terlintas dalam benakku. Ku ketik beberapa tombol di
handphoneku. Dengan bermaksud, aku menanyakan siapakah pengirimnya?
Baru saja aku memasukkan handphone ku ke dalam
saku baju, tiba-tiba pesan masuk kembali. Aku langsung membacanya tanpa
memperdulikan kepulanganku menuju rumah.
Oh iya, maaf-maaf kakak belum memberitahu ini
dengan siapa. Ini dengan kak Farhan Sya.
Itulah pesan singkat yang di ketik kak Fathan
untukku. Aku pun langsung membalasnya.
Oh, iya kak gapapa kok. Maaf ya kak
sebelumnya, kakak tau nomer Aisya dari siapa? Tanyaku pada kak Farhan melalui pesan singkat yang sangat
canggih.
Tak lama lagi, pesan itu masuk kembali.
Kakak tau nomer Aisya dari buku tamu yang
kemarin, kan Aisya nyatet nomernya.ya udah, kakak sms Aisya. Lagi pula, kakak
ngshare ke semua peserta kok J
Kegeeranku menaik sebelum kak Farhan bilang
kalau dia ngeshare ke semua peserta. Untung saja, kegeeran itu belum meluap
tinggi. Fiuh !
Pesan demi pesan berlangsung satu hari penuh.
Kami bertukar dialog dengan begitu akrab. Keakraban itu di mulai sejak kak
Farhan mengirimkan pesan hadits untukku. Selanjutnya, kami membahas berbagai
macam kehidupan. Dimana dia tinggal, hingga tentang seseorang yang dia cintai.
Kami kupas tuntas dialog itu satu hari penuh. Ya satu hari penuh.....
∞∞∞
Pagi yang cerah mendukung keteganganku. Sekarang,
ujian sudah tidak menjadi angan-angan kosong. Namun, ujian sekarang sudah di
depan mata. Kali ini aku ujian. Ketegangan itu sirna ketika satu pesan masuk ke
handphone ku.
Aisya SEMANGAT ya ujiannya. Jangan kalah sama
si UN. Yakinlah dan mohon pertolongonlah pada Allah. Karena Allah itu, lebih
dekat dengan urat leher kita.
Pesan yang membuat hatiku mendadak tenang.
Terimakasih kak motivasimu membuat ku menjadi lebih tenang. Batinku berkata.
Langkah semangatku menggelora. Bendera spirit
berkibar tiada henti dalam benakku. Ku salami punggung tangan ibu dan bapakku,
sembari berharap restu dari mereka. Kali ini, aku semangat !
Raut wajah teman-temanku tak seperti biasanya.
Mereka benar-benar tegang rupanya. Memang, saat-saat inilah saat-saat dimana
kami serius. Sekarang, kami tidak bisa bercanda ataupun sekedar memberikan
lelucon. Kami pasrah dengan ujian ini....
Sunyi di ruangan ini. Tak adabunyi yang
membuat kami gaduh. Yang terdengar hanya suara pensil yang kami coret di kertas
yang penuh dengan soal, suara serutan pensil yang mendecik dan suara jantung
yang berdegup kencang.
Ujian pertama di lalui dengan seulas senyum.
Senyum tipis yang masih ragu. Senyum ketegangan yang di sebabkan oleh soal
Bahasa Indonesia. Kami mengerjakannya dengan lancar, meskipun beberapa soal
tengah menjebak jawaban kami. Namun jebakan itu di tuntaskan oleh kami dengan
jawaban yang super duper ngasal. Pasrah.. pasrah dan pasrah..
Waktu bergulir dengan cepat. Matahari pun
meninggalkan pagi, siang dan sore tanpa meninggalkan jejaknya. Inilah saat-saat
yang paling menyenangkan. Ujian telah selesaaaaaiii ! ratusan warga kelas 9
menempakkan wajah yang berbinar-berbinar. Kami bebaaaaass!!!
Sorakan batin kami membuat kami bisa tersenyum
dan bercanda kembali. Pesan demi pesan pun menumpuk di handphone ku. Kami
mencurahkan hati kami masing-masing tentang ujian kemarin. Kini... tinggal
menunggu hasil. Baikkah atau burukkah? Hanya Tuhan yang tahu tentang ini. Dan
hanya langit ciptaan nya lah yang dapat memberi kabar kepada kami.....
Langit kembali menitikkan air matanya. Kali
ini tak mendukung kebahagiaan dan kebebasan warga kelas 9.
Ku raih ponsel ku yang berada di atas kasur.
Tak ada pesan yang masuk selama satu jam yang lalu. Sepi.. benar-benar sepi.
Wajah itu kembali menghantuiku. Wajah yang
sudah di kenali beberapa minggu yang lalu. Wajah yang teduh dan tampan yang
membuat dirinya selalu di bayang-bayang oleh senyum manisnya. Dia sosok
misterius yang selalu memberikan kejutan tanpa ku ketahui sebelumnya. Dafa....
Batinku kini bertanya tentang Dafa.
Bagaimankah kabarnya setelah ujian? Apakah dia sehat? Apakah dia baik-baik
saja? Batinku berkelahi menanyakan tentang kabarnya yang hilang beberapa minggu
yang lalu. Aku merindukan Dafa...
Ku cari kontak di ponsel ku. Ku cari nama
Dafa. Selidik mataku menatap layar. Namun, hasilnya? Nihil. Aku kan tidak
memiliki nomor Dafa. Jangankan punya nomor Dafa. Sekedar menatapnya saj, aku
jadi seorang yang payah. Dia telah membiusku dengan biusan misterinya....
Lelah memikirkan dia. Aku hanyut dalam tutupan
mata yang berkepanjangan. Rupanya aku tertidur dalam lantunan kerinduan.
∞∞∞
Hari-hariku kini tak menengangkan seperti
hari-hari kemarin. Hari-hariku kinidilanda kebebasan. Ke sekolah, masuk kelas,
ngobrol dengan teman, istirahat, dan akhirnya pulang. Itulah hari-hari setelah
ujian telah selesai. Monoton.sangat monoton. Lama-lama aku menjadi jenuh.
Istirhat ini, aku jajan di kantin seperti
biasanya. Namun, sedari tadi aku tak melihat si misterius itu. Kemanakah dia?
Batinku khawatir. Aku duduk di bawah pohon yang melambaikan angin sejuknya
padaku juga pada Nira. Sejuknya angin pagi menelusur mengibaskan jilbab
putihku. Aku memakan lahap pisang goreng buatan bi Asih. Manisnya pisang dan
hangatnya gorengan ini, membuat kenikmatan lidah terus bergoyang.
Di tengah kesibukanku berdialog dengan Nira,
aku tersontak kaget ketika ada sosok yang sedang berjalan menuju arahnya.
Dadanya berdegupkencang. Sekencang kereta api yang melintas tanpa arah.
“cah. Gimana kabarnya? Lama ya kita ga
ketemu?” nada suaranya sedkit dingin, namun perhatian. Aku sudah menunggu
moment-moment seperti ini. Sejak beberapa minggu lalu. Aku rindu saat-saat
seperti ini. Kembali batinku meluapkan perasaannya.
“ya. Alhamdulillah aku baik.kamu sendiri
gimana?” cetusku namun masih tetap ku sisispkan kata-kata perhatianku untuknya.
“mm.. sama, alhamdulillah aku juga baik sya.
Nati pulang bareng, mau gak cah?” Cetusnya menawari untuk kesekian kalinya.
Ini adalah kesempatan yang tak boleh sirna
lagi. Aku harus menerima ajakan Dafa. Sepertinya dia sangat berharap aku akan
menerima tawarannya. Ku putuiskan ajakan ini.
“maaf Daf. Aku ga bisa.” Nada ku dengan
hati-hati agar dia tak tersinggung dengan ucap ku tadi. Rupanya aku menolak dia
kembali. Duhh. Aisyaaa! Kamu salah berucap sya! Seharusnya kamu menerima
bukannya menolaknya. Sentakan batinku memarahiku.
“kenapa sih kamu ga mau? Padahal aku cuman
ngajak kamu pulang bareng aja, lagi pula gak ada maksud apa-apa. Ini yang
terakhir aku menawari kamu. Nanti sore, angkot itu gak akan ada.” Ucapnya
setengah marah. Aku tak menyangka jika dia akan marah seperti ini. Memang, aku
salah karena telah menolak ajakan Dafa beberapa kali.
Dia hilang dari hadapanku. Duh, kok jadi gini
sih? Ah. Kacau kacau. Aku tak pergi untuk menyusul Dafa meski hanya sekedar
untuk menjelaskan atau meminta maaf. Namun, aku tak mampu untuk berbuat seperti
itu.
Sore yang kelam dengan rintik-rintik air yang
turun ke bumi, menjadi teman di perjalanan ku menuju rumah. Dia menemani ku
hingga aku diam mematung menunggu angkot datang menjemputku.
Dugaan
Dafa benar, angkot tak ada yang melewati jalan ini. Tak ada satu pun angkot
yang mau membantunya untuk pulang ke rumah. kini, aku hanya terdiam memtung
sembari memiliki rasa bersalah yang besar pada Dafa. I’m sorry Daf.. i’m very
sorry..
Dengan langkah keterpaksaan, aku pulang dengan
wajah lesu dan langkah tergontai-gontai. Seperti biasa, aku melewati jalan yang
sepi dan banyak pepohonan agar hatiku kembali tenang.
“cape ya cah?” nada suara itu bersumber dari
arah kiriku. Gelikan tawa kecilnya membuat darahku naik sebentar. Namun, aku
kenal dengan suara yang tak asing bagi ku. Si misterius dataaaaaaang!!! Batinku
berteriak kegirangan.
“gak. Aku gak cape. Udah biasa jalan
ko.”jawabku dengan wajah tertunduk. Sebenarnya, aku cape. Tapi, aku tak mau
jika dia khawatir padaku.
Dengan motor matic nya, dia mengikuti ku
dengan pelan. Dia menyesuaikan laju motornya dengan laju langkahku. Sungguh,
dia sangat pengertian.
“udah cah.lu naik aja deh. Ga tega ah liatnya
anak cewe jalan sendirian. Udah kecil badannya, pendek, gak ada kekar-kekarnya
lagi. Naik aja deh cah! Jangan manja!” sentaknya membuatku kaget seketika.
Sebenarnya Dafa kenapa sih? Aku penasaran dengan gelagat dia yang seperti ini.
“gak usah sentak-sentak gitu kali! Biasa aja
Daf. Aku juga tau. Tapi aku ga mau Daf.” Jawabku dengan kesal. Seharusnya aku
tak bertindak seperti ini. Seharusnya aku menerima ajakannya.
“oke. Terserah kamu deh cah. Tapi, ini untuk
yang terakhir kalinya aku ngajak kamu. Cepet bocah tengil, kamu naik sekarang
juga!” paksanya dengan menatap Aisya tajam.
Aku diam. Memikirkan apakah aku mau atau
tidak. Ku putuskan dengan ucapan yang hati-hati. Agar ucapan yang terlontar
sesuai dengan yang ada di hati.
“iya aku ikut!” ucapku dengan dingin. Namun di
dalam hatiku yang jauh dan dalam, aku berteriak kegirangan. Karena inilah yang
perdana aku di antar oleh seseorang yang aku kagumi.
“daritadi napa sih bilang mau! Susah amat!”
dengusnya sembari menjalankan motornya bak kuda yang dipacu oleh sang kusir
melesat dengan cepat. Namun, jauh ku tatap dari sudut mataku, dia tersenyum
begitu manis dengan pipi yang di balut kemerah-merahan.
Aku tak merespon apa yang di bicarakan Dafa. Satu
hal yang dapat menklukan hati ini agar tidak berdegup kencang, ya dengan diam
seribu bahasa. Ini jauh lebih aman.
Sedari tadi, tak ada kontak dialog diantara
kami. Kami saling diam dan mematung. Hanya angin sore lah yang menggubris
kesunyiann kami. Hanya bisikan rumput-rumputlah yang meramaikan jalan ini. Di
jalan ini, jalanan amat sunyi. Hanya sorak kebahagiaanku saja yang membuat
gaduh suasana di hati.
Tepat. Dafa mengantarku di depan rumahku. Dialah yang pertama kali lelaki yang
mengantar ku pulang. Itu pun karena dia memaksaku untuk di antar. Jika tak di
antar, mungkin aku akan pulang ketika matahari pulang ke arah barat.
“thank’s Daf.” Ucapku dengan senyum tipis.
Namun tetap bernada dingin.
“lain kali jangan nyusahin orang ya cah! Ya
udah aku balik dulu ya. Ini yang terakhir kalinya kita ketemu lho .Baik-baik
terus ya cah!” nadanya kini terasa hangat untuk di dengar. Senyumnya pun kini
terukir dengan indah di wajahnya.
Tanpa menjawab kalimat terakhir yang Dafa
ucapkan, aku terdiam dengan kalimat yang terlontar darinya tadi. Ini yang
terakhir kalinya kita ketemu lho .Baik-baik terus ya cah!. Kalimat yang
mebuatku terdiam dan berkaca-kaca.
Sepanjang hari, rasanya hampa tak ada Dafa
yang membuatku kesal. Aku rindu debatku dengan Dafa. Sudah 2
minggu aku tak tahu bagaimana kabar Dafa. Dia menghilang dengan sendirinya
tanpa memperdulikan aku yang selalu sibuk memikirkannya.
Aku tak tau harus mengetahui keberadaan dia
darimana? Yang pasti, aku kesepian Daf. Hari-hariku sangat abu-abu. Tak
berwarna dan tak cerah. Dimana sih kamu si misterius????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar