Entri Populer

Minggu, 08 September 2013


Bab satu


Kota sejuk, Bogor.
Di Rumah Panggung.
Ada bunyi bel di luar yang memecahkan telinga di pagi buta ini. Pak pos yang sudah biasa mengirim surat untuk rumah itu, berlalu setelah seseorang menerimanya. Deyas bergegas turun menghampiri ibunya.
“surat untuk siapa bu?” Deyas bertanya sambil menyantap roti yang terhidang di meja makannya. Mulutnya penuh dengan roti selai kacang kesukaannya.
Ibunya menjawab dengan memberikan sepucuk amplop biru bermotif bunga dan kupu-kupu itu ke tangannya.
“untukmu.” seulas senyum tersungging di bibirnya.
“untuk deyas?” tanyanya dengan nada heran, alis terangkat dan mulut penuh dengan roti selai kacang.
“mmm, iya untukmu. Dilihat saja di amplopnya.” ibu masih menjawab dengan senyum yang terhias di bibirnya.
Deyas segera membalikkan amplop biru itu. Benar. Itu surat untuknya. Sedikit demi sedikit jantungnya kini terasa berdegup kencang. Surat dari siapa ya? dikirim di pagi hari? tanpa nama pengirim? pertanyaan demi pertanyaan semakin menggelayuti otak Deyas. Kini, Deyas segera memabalikkan badan dan segera menuju kamarnya. Deyas ingin tau isi dari amplop biru itu. Ya harus tau.
©©©
Di kamar dengan cat biru.
Gugup, deg-deg an, penasaran. Itulah perasaan yang kini tengah di alami oleh Deyas. Duduk di jendela sambil melihat keadaan luar mungkin hal yang tepat untuk menghilangkan rasa gugupnya. Semoga saja. Segera Deyas membuka perekat amplop biru itu. Matanya kini tertuju pada kertas berwarna biru muda dengan hiasan kupu-kupu di tengahnya. Indah. Ya, itu memang kertas yang sangat indah bagi Deyas. Pertama kalinya ia menerima sepucuk surat selama 16 tahun hidup. Kini hanya satu hal yang mengganjal di mata Deyas. Warna hitam di cetak miring yang membuat dirinya gugup. Kata-kata yang di rangkai menjadi kalimat. Kalimat yang menjadi paragrap. Itu adalah sebuah tulisan. Tiba-tiba saja, tulisan itu membuat tubuh Deyas bergetar, berkeringat dingin dan mengubah wajahnya menjadi pucat pasi.  Sebuah tulisan yang mengerikan bagi Deyas. Tulisan yang membuang Deyas ke masa lalunya.
untukmu di Kota sejuk nan Indah..
Salam rindu..
Hai deyas apa kabar? Kakak begitu yakin, dirimu pasti baik-baik saja. Kakak disini pun begitu baik. Masih ingatkah dengan kakak? Selama dirimu tak memberi kabar, kakak pun selalu mendo’akanmu di negeri matahari terbit ini. Deyasku, mungkin kamu terkejut dengan adanya surat ini padamu. Namun, dirimu tak perlu takut ya. Kakak ini seseorang yang begitu merindukanmu. Sungguh Deyas. Kakak begitu merindukanmu. Kakak ingin sekali bertemu denganmu. 6 tahun ini, kakak belum bisa melupakan dirimu. Meskipun kita tidak pernah menjalin suatu hubungan. Namun, kakak mengalami suatu perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Kini kakak di Indonesia Dey.. di Bogor. Di kota dirimu tinggal, di kota yang mempertemukan kita. Masih ingat dik bagaimana kita bertemu? Dirimu berdiri dengan memegang sebuah kamera SLR yang sedang memotret sebuah pemandangan, lalu kakak berjalan di depanmu yang membuat dirimu malah memotret kakak tidak sengaja. haha Itulah awal kita bertemu. Lucu ya dik? Semoga dirimu mengingatnya ya dik. Masih adakah foto itu? jika ada, kakak ingin melihatnya ya dik. Mm, dik mungkin surat dari kakak membuat dirimu menangis ya. Tuh, merah idungnya. lap tuh ingusnya. hehe
Sekarang, senyum ya dik...
6 tahun lalu, kakak tak memberi kabar tentang kakak pergi kuliah ke Jepang. Itu karena kakak tak ingin melihatmu menangis dik. Mungkin kakak jahat. Ya memang kakak sangat jahat. Namun, kakak lebih jahat jika memberi kabar padamu. Waktu itu.. dirimu sedang menghadapi ujian yang sangat penting untuk masa depanmu. Waktu itu pula kakak pergi ke Jepang tanpa memberi kabar. Jika saja kakak memberimu kabar, mungkin sekarang dirimu belum lulus. Karena, jika kakak memberimu kabar di pagi hari itu dirimu pasti akan menangis dan tidak akan mengerjakan baik soal-soal tersebut. Semoga saja dik Deyas mengerti. Kakak ingin bertemu denganmu dik. Bolehkah? namun, ada satu syarat ya. Syaratnya ketika kita bertemu, dik Deyas jangan nampar kakak yaaa? please haha
Dik... Kakak menunggumu, di awal kita bertemu. Hari Ahad tepat pada saat matahari belum terlalu panas. Jangan lupa, dik berdandan cantik yaaa.. Disana, kakak menunggumu.
Seulas senyum lagi tolong berikan di kata-kata terakhir ini ya dik...

dari, seseorang yang berada di zona hidupmu 6 tahun yang lalu....
Basah. Pipi Deyas kini telah basah. Memang benar tebakan si Penulis, Deyas menangis. Rasa haru, kesal, sedih, senang, bercampur jadi satu bagaikan gado-gado. Deyas hanya bisa diam setelah membaca isi surat itu. Wajah pucat dengan hidung yang merah membuat otaknya kini memutari sebuah film yang di alaminya selama 6 tahun yang lalu. Film yang sulit untuk di hapuskan dari memori hidupnya.
“duh.. dingin banget hari ini. Mana ga pake jaket lagi. Padahal aku kan pengen nikmatin malem ini di puncak tanpa gangguan. huh” sesalnya di tengah sepinya puncak.
Tak ada yang menanggapi sesalnya. Ada angin. Namun, ia hanya mengibaskan jilbab Deyas. Tak ada kata-kata darinya. Kesendirian lah yang kini menemani Deyas. Tak ada siapapun. Ya, deyas seorang diri bagai anak yang hilang.
Suasana puncak memang lengang kali ini. Padahal hari ini malam minggu. Seharusnya, anak muda sudah mejeng disana-sini untuk menikmati malam yang indah ini. Bahkan seharusnya, anak muda sudah mejeng di warung-warung pinggir jalan. Menikmati hangatnya kopi dengan pisang goreng renyah buatan ibu warung. Namun, sekarang anak muda lebih memilih untuk mejeng di mol-mol tanpa bisa memandangi indahnya langit.
Kini Deyas hanya bisa berdiri mematung dengan kamera kesayangannya. Memikirkan betapa lengangnya Puncak di malam ini. Deyas mengambil beberapa objek yang terlihat menonjol di matanya. Memotret bintang yang bertaburan di Puncak, merupakan hal yang rutin di lakukan oleh Deyas setiap malam minggunya. Rumah penduduk dengan sinar lampunya pun Deyas jadikan objek memotretnya kali ini. Satu hal yang menarik di objek potretnya malam ini. Mesjid yang berada di Puncak. Itu objek yang paling indah bagi Deyas. Sinar lampunya yang memancar di malam hari, dengan balutan warna tembok putih bercampur hijau membuat objek yang di ambil Deyas begitu sempurna. Deyas segera melihat hasil potretnya. Hasil yang luar biasa. Begitu indah. Cara pengambilan Objek yang luar biasa bagi Deyas. Baru kali ini ia mengambil objek dengan sangat sempurna. Senyumnya mengembang penuh bangga. Deyas mencoba memotretnya lagi.
Lensa kamera mengarah pada bangunan masjid. Kali ini, Deyas mencoba mengambilnya dengan memakai efek malam hari. “cekrek”. Hasilfototampak di layarkamera. Senyumnyaberubahmenjadicemberut. Objek kali ini, takseindahobjek yang pertama. Bahkanobjek yang keduaini, membuatDeyaskesaldanmarah.
“eh, lugimanasih? Jalantuh yang benernapa? Lu malahseenaknyaajalewat. Gak tau apa, guelagimotret !” ucapnyadengan nada tinggidanhalisterangkat.
“maaf, Inijalanumum.” Senyumsinisnyatersungging di bibirlelakiitu, sambilberjalanmeninggalkanDeyasbegitusajatanpa kata-kata lagidarinya.
“woooy !iyegue tau inijalanumum. Tapi, lugaliatapaguelagimotret. Gasopanbangetsihjadi orang. Bilangpermisikek, puntenapa. Belajar kaya gitugasihlu?” teriakDeyasdi tengahsepinyapuncak. Takadarespondarilelakiitu. DarahDeyas, kinisudahnaik. Bahkanpipinyamemerah. Tangannyasudahmengepalkeras. InginrasanyaDeyasmeninjunya, menjitaknya, menendangnya. Namun, itusemuatakmungkin. Heeeuuuhh..wajahnya, kinimuram. Deyaslangsungmenunduksambilmengusapdadanya, semogasajabisamembuatnyalebihtenang.
“maaf, permisimbak. Sayanumpanglewat.” Ucapnya di hadapanDeyas, sambiltersenyummanis.
Takmenghitungjarilagi. Deyaslangsungmengangkatwajahnya. Tepatsekali. Deyasbertatapanlangsungdenganlelakiitu, membuatDeyasagakgugupuntukberbicara. Tangan yang sebelumnyaterkepal, kinimembukadengansendirinya. Deyaslarutdalambertatapandenganlelakiitu. Taktersadar, 3 menitsudahDeyasbertatapandenganlelakiitu. BarulahsadarketikalelakiitusedangmenatapDeyasdenganheran. SegeraDeyasmengawalipembicaraan.
“akhirnya, lusadarjuga. Daritadinapabilangpermisi!” kiniDeyas yang memberisenyumsinisnya.
Takkalah, lelakiitumembalasnyadenganucapan yang lumayantajam.
“sayasudahbilangpermisiya, nona. Apaandatakdapatmendengarnya?Atauandabudek?” senyumsinisnyadiakeluarkansebagaisenjatapamungkasuntukmengalahkanDeyas.
“sembaranganajalukalongomong. Guedengerko. Tapi kaya bisikanangingitu. Gajelas, gaterlalukedengeran. Kaya anginlewataja” UcapDeyasmembuatlelakiitu, kiniharusmengepalkerastangannya.
“heynona! PERMISIIIIIIII!” teriaklelakiitu di telingaDeyas. SambilberjalanmeninggalkanDeyasuntuk yang keduakalinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar