Entri Populer

Jumat, 22 Maret 2013



Si Kembar Hilang
Di kasur yang empuk aku rebahkan tubuhku. Butir-butir kapuk menemani siangku yang cerah nan indah. Suara angin mengibas-ngibaskan gorden kamarku. Awan- awan bergerak , bernari indah di langit itu. Memberikan aku isyarat bahwa aku harus melihat mereka.
Aku membukakan jendela kamarku. Tak ada hal yang menarik yang ada di luar. Hanya awan-awan, rumah penduduk yang saling berdempetan. Memang kampungku terletak di kawasan Bandung Utara. Sekitar Dago pakar. Kawasan bandung yang terkenal dengan keindahan alamnya. Dago pakar pun merupakan tempat wisata yang terkenal di Bandung.
Sejuknya udara, pohon-pohon rindang dapat di nikmati di daerah Dago Pakar. Tak hanya sejuk dan banyak pohon. Dago pakar pun terkenal dengan Gua Belanda dan Gua Jepangnya. Konon katanya dahulu kawasan ini di jajah oleh orang Belanda dan Jepang yang kejam. Gua ini digunakan sebagai markas tentara Jepang dan Belanda sebagai tempat persembunyian mereka. Sekaligus untuk merencanakan strategi menjajah.
Peristiwa puluhan tahun silam itu mengubrik di pikiranku. Betapa hebatnya para pejuang memerjuangkan negara ini. Tak terbayangkan bagaimana jika sampai saat ini dan hari ini masih di jajah. Mungkin aku akan mengikuti peperangan dan melawan para penjajah dengan semangat ’45.
Aku akan membuat para penjajah itu lari terbirit-birit karena melihatku mengeluarkan jurus silatku yang awut-awutan. Ya hanya jurus silat awut-awutan saja yang aku bisa lakukan.
 Saat aku berjalan, menuju perkampungan yang ada di sebelah. Dari arah belakang, aku mendengar suara lelaki yang datang menghampiriku.
“halo nona. Mau kemana?” dengan logat inggris medok.
Batinku kaget. Siapakah yang memanggilku? Tanpa basa-basi lagi aku melirik ke arah belakang. Ada seseorang. Seseorang itu, berbadan tinggi, tegap, memiliki kulit putih dan berseragam rapih. Tentara Belanda. Apa yang harus aku lakukan? Suasana hatiku riuh. Tegang bukan main. Berhadapan langsung dengan tentara Belanda. Waktu aku terdiam. Suara itu memecah kembali di telingaku.
“hey nona. Jawab dong?” Kali ini dengan nada berbeda. Sedikit menggoda. 
“maaf, tak ada urusannya dengan diri anda jika saya akan pergi kemanapun.”
“cantik, jawabnya sinis gitu..” Dengan mencoba untuk mendekat.
Tak ada rasa kasihan, aku langsung meninjunya. Rupanya, dia terjatuh ke tanah.
Aku jongkok mendekati tentara itu. Tanpa basa-basi aku tarik kerah bajunya.
“hey dengar kau! Jangan pernah macam-macam kau kepadaku! Sekali lagi kau melakukan ini, tak ada ampun bagi kau! Camkan perkataanku tadi!” dilepaskan kerah bajunya olehku. Aku berdiri dan meninggalkan lelaki kurang ajar itu. Rupanya ia sangat kesakitan.
Aku bangga. Karena aku sebagai perempuan desa yang mempunyai jurus silat awut-awutan mampu mengalahkan tentara belanda yang amit-amit. Batinku kali ini tertawa bangga melihat aku seorang yang bisa membela negara ini. Ayoooooooo semaaaangaaattttt ! si batin terus menyemburkan api semangat kepada diriku hingga aku merasakan kobaran semangat yang kian membara.   Di tengah kebanggaanku, menuju perkampungan sebelah. Tiba-tiba, perasaanku kurang enak. Ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Tapi, aku cepat-cepat membuang pikiran itu.
“nona!”
Ternyata benar dengan perasaanku tadi. Feelingku benar. Aku menggaruk-garuk kepala ketakutan. Berbeda dengan yang tadi. Tadi hanya duel satu lawan satu. Tapi, sekaranggggg?? Gerombolan tentara menghalangi perjalananku. Aku hanya bisa menelan ludah. Glek. Tantangan yang lebih besar di banding tadi. “aku harus lebih bersiap-siap” batinku bersemangat.
“ada apa ini?” dengan wajah so calm dan menantang. Padahal aku takuuut.
“hahaha. Nona ini tidak merasa salah teman-teman.” Ejeknya.
“hey nona! Pura-pura tidak tau kau! Lihat lukaku!” dengan menunjuk kewajahnya.
“wajahmu memar.” Ucapku dingin.
“enak sekali kau bilang begini! Pukulan kau sangat sakit wanita bodoh!”
“kau bilang aku wanita bodoh?” aku marah ketika Dia mengataiku bodoh. Enak saja Dia mengataiku bodoh. Lihat saja nanti pukulanku akan melayang lagi tepat di sasaran.
“ya, kau wanita bodoh!”
“terima kasih atas perlakuanmu terhadapku dan negara ini. Aku tak akan pernah takut dengan segala ancaman kau dan kau! yang tak berguna. ”
 Aku lari meninggalkan gerombolan tentara tadi dengan menyingsingkan rokku ke atas. Aku lihat ke arah belakang, ternyata mereka mengikutiku. Duhhhhh, bagaimana ini? Aku seorang perempuan. Sedang mereka lelaki yang mempunyai postur tubuh gagah dan badan besar-besar. Tega sekali mereka mengikutiku hanya karena hal kecil. Tapi, Aku lari sekuatnya dan sekencang-kencangya. Aku kayuh kakiku sebisa yang aku bisa walaupun aku sudah sangat lelah. Aku lihat lagi ke arah belakang. Malah semakin mendekat. Aku takut aku takut.
Beribu-ribu meter telah aku lalui dengan lari cepat. Nampaknya mereka masih mengejarku. Suara riuh sepatu beribu-ribu kaki tentara menghentakkan bumi ini dan menghentakkan hatiku.
Tak ada istirahat, tak ada minum. aku haus, aku cape Tolonglah jangan kejar aku lagi tentara. Batinku nampaknya sudah kelelahan. Aku lari lari lari dan lari. Suara tonggeret sudah memecahkan telingaku.
Tak ada lagi hangat mentari yang menyinariku. Tak ada lagi segurat sinar di kawasan ini. Suara hentakkan lari sang tentara terdengar bergema. Kini aku  sudah berada di HUTAN.
 Jalanan becek karena hujan kemarin, tak ada penenerangan. Batin dan fisikku sekarang di uji. Wajahku sudah memelas lemah, pucat tak karuan, keringat sudah membanjiri badanku basah kuyup. Aku terdiam sejenak karena rasanya aku akan pingsan sebentar lagi. Beribu-ribu kunang-kunang sudah memutari depan mataku. Dan kini, gelap yang aku rasakan.
            Clak.. clak... clak... beribu suara itu sudah membangunkan lamunanku. Ternyata hujan. Sudah lama aku melamun di jendela kamarku. Tapi, mengingat masa penjajahan itu rasanya aku larut dalam waktu 350 tahun. Aku teringat, tadi pagi menjemur sepatuku di luar rumah. Tidak lama berfikir aku langsung berlari secepatnya keluar rumah karena takut sepatuku satu-satunya kebasahan.
“sepatuku! Duh sepatuku kemana? Kok ga ada sih?”
Aku berlari kesana-kemari. Hasilnya, nihil. Tetap tidak ada.
“kemanakah sepatuku? Itu sepatuku satu-satunya! Tega banget sih orang yang maling sepatuku!”
Sambil sibuk mencari sepatuku yang hilang. Aku berbicara sendiri dan marah-marah sendiri. Tetanggaku yang sedang mengangkat pakaiannya melihatku dengan terheran-heran.
“neng aya naon?nuju miliarian naon? (neng ada apa? Lagi nyari apa?)”
“oh, henteu bu, pak eh bu. Ieu bu milarian sapatu anu ical duka kamana. (oh,engga bu, pak eh bu. Ini bu nyari sepatu yang hilang gatau kemana)” dengan wajah bingung.
“oh kitu. Nya sok atuh pilarian nepi kapendaknya. (oh gitu. Silahkan aja cari sampai ketemu ya)”
Ibu-ibu itu kembali masuk ke rumahnya sambil tertawa.
“euuhh si ibu lain bantuan. Kalah nyeungseurikeun. (euuhh si ibu bukannya bantuin malah ngetawain)”
“naon neng? Tadi nyarios naon? (apa neng? Tadi bilang apa?)”
Aku terdiam mematung sejenak. Menelan ludah. Ternyata ibu tita mendengar perkataanku tadi. Terpaksa deh aku jawab bohong.
“oh, henteu bu. Tadi mah nyarios sapatu kamana. Kitu bu. (oh nggak bu. Tadi bilang sepatu kemana. Gitu bu)”
“oh kitu nya neng. Sugan teh nyarios naon. Punten atuh nya neng. (oh gitu ya. Kirain bilang apa. Maaf deh ya neng.)”
“muhun bu wios teu nanaon.(ya bu ga apa-apa)”
“huh untunglah aku gak apa-apa.” Gumamku dalam hati sambil mengusap dada.
Tetap, setelah aku cari kesana-kemari, mondar-mandir ,bolak-balik. Itu si kembar gak ada. Kemanakah dia menghilang? Huh, terpaksa besok pagi aku ke sekolah memakai yang ada dulu. Entah sandal, entah kresek yang aku pakai besok. Entah yang paling parah aku tidak memakai sepatu. Tidaaaaaaaaaaaaakkk!!!! Batinku berteriak. Mana mungkin besok aku tidak memakai sepatu. Sudah pasti besok aku menjadi bahan ejekan. Bahan tertawaan. Bahan introgasi. Tak terbayang besok aku harus bagaimana. Mungkin aku pasang wajah malu dan sedih.
Aku masuk rumah. Dengan wajah lesu, badan basah kuyup karena hujan.
“astagfirullaah!dari mana kamu teh?”
“dari luar mah. Hasyimmm hasyiiimm.”
“aduh, pada basah lagi. Ngapain atuh teh dari luar teh?
Aku langsung diam. Ibu bertanya dari luar abis ngapain? Aduh jawab apa ya? Walaah, kalo ngasih tau sepatu ilang pasti marah. Gimana ya? Ah, kacau. Otakku berpikir.
“ngapain teh?”
“emmm, emmm. Itu mah dari luar.”
“ya abis ngapain dari luar teh?”
“itu mah abis,….. eh mah Udah dulu nya. Aisya mau ganti baju dulu. Tuh, pada basah gini. Bentar ya mah.”
Cepat-cepat aku melemparkan ke pembahasan lain. Aku langsung ganti baju ke rumah atasku.
∞∞∞
Aku langsung ke bawah setelah selesai ganti kostum. Di dapur aku melihat ibuku. Ibu sedang makan juga rupanya. Karena perutku sudah memanggil-memanggil jadi Aku makan di meja makan yang ada di dapurku sebelah barat. sambil makan aku bercerita kepada ibu bahwa “si kembar hilang”. Ibuku tidak marah. Tapi, yang aku dapat adalah ceramah. Terpaksa aku dengar satu kata satu kata yang keluar dari mulut ibuku. Setelah dihitung-hitung olehku setiap kata. Banyak sekali kata-kata yang begitu indah. Sampai memecahkan hatiku. Hebat sekali ibuku. Mampu merangakai kata-kata indah dalam waktu sekejap. Sungguh, aku akan mencalonkan ibuku ke rekor dunia. Aku jamin ibuku yang menang di rekor dunia nanti.
“kamu mendengar apa yang ibu bicarakan?”
“ya, bu Aisya dengar ko bu.”
“lalu, besok kamu mau pake apa ke sekolah nak?”
“Gatau bu. Kan ibu tau, sepatuku itu satu-satunya yang aku miliki. Gak ada yang lain lagi bu.”
Ya sudahlah, ribet banget sih mau ke sekolah juga. Pake itu aja!” ibu menunjukkan jarinya ke rak sandal. Sudah aku kira pasti ibu menyuruh pakai itu.
“bu, bu. Yang bener aja buu. Masa Aisya pake sandal sih?”
“eh, daripada gak sekolah sok?” dengan wajah tersenyum-senyum menantang.
“hemm. Ya udah deh bu. Besok Aisya pake itu ke sekolah.”
Aku jawab pertanyaan ibu yang terakhir dengan berat hati. Sebenarya aku tidak mau. Tapi, karena ini adalah permintaan dari ibuku. Apa boleh buat. Jadi, aku putuskan besok memakai sandal jepit meskipun dengan berat hati aku memakainya.
Si kembar yang selalu mendampingiku. Kini, dia pergi begitu saja tanpa mengabari aku. Mungkin si kembar bukan milikku. Kesedihan dan keberathatian pun mengisi malamku malam ini. Nampaknya langit dan awan mengetahui aku yang sedang sedih.
Awan dan langit mendukung kesedihanku dengan menjatuhkan airmatanya ke bumi ini. Dan tanpa basa-basi lagi. Aku merebahkan tubuhku kembali. Aku akan melanjutkan kembali kisah perjalananku dengan si kembar dalam penjelajahan mimipiku.
∞∞∞

Kring.. kring.. kring.. alarm berbunyi.
“duh, jam berapa sih?” sambil melihat jam. Jam 03.35 WIB. “hooaaaammm, masih pagi.” Dengan mengucek-ngucek matanya Aisya berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Aku mengambil air wudhu. Meskipun dinginnya air yang menusuk hingga tulang belakang. Tapi, tak ada pengaruhnya untukku. Yang terpenting aku bisa shalat malam hari ini.
Adzan Subuh berkumandang. Melantunkan suara demi suara melalui bantuan sang angin untuk disampaikan ke segala penjuru kota Bandung. Bait demi bait aku resapi, suara Adzan yang berkumandang melantun dengan begitu indah. Menggetarkan sekujur tubuhku, merinding, hatiku bergetar ketika mendengar lantunan Adzan yang begitu menyentuh.
 Kesendirian pun menemani subuhku.
Jam menunjukkan pukul 06.05 WIB. Waktunya aku memakai sandal butut dan siap-siap menghadapi tertawaan orang-orang. Malu bukan main kali ini. Memakai sandal butut warna kuning menyala di pakai ke sekolah. Feelingku kali ini yaitu, pasti guru-guru bertanya mengapa aku tidak memakai sepatu? Bla..bla..bla..dan bla.. bla..
“aha! Aku punya ide!” tiba-tiba otakku mencair kembali. Sambil tertawa aku mengambil perban dan betadin yang berada di kotak obat. Sebuah rencana aku susun dengan rapi. Aku belitkan si kain panjang  hingga habis. Dan di teteskannya si merah ke si kain. “beres! Rencanaku akan berhasil. Yeaaah!” batinku tertawa bangga.
Gedebug.preeeengggg.  “aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh”. Burung-burung yang asalnya sedang asyik bercengkrama dengan temannya. Kini beterbangan ke udara ketika aku berteriak. Teriakanku memecahkan telinga tetanggaku. Bagaimana tidak, pintu baju yang berada di kamarku jatuh menimpa kakiku. Sakitnya bukan main. Nyut..nyut..nyut rasanya nyut-nyutan.
Sungguh, sakit ini tak ada bandingannya dibanding ketusuk jarum. Perbandingannya antara 3:1. Di tusuk jarum tidak seberapa. Tapi, ketimpa pintu yang beratnya sekitar 5kg sangat seberapa. Clakk..clakk.. clak.. butiran air mataku membanjiri rok seragamku. Bukan masalah cengeng atau tidaknya. Tapi, ini berbeda. Menangis karena kesakitan. Apalagi ketika si merah yang asli keluar dengan deras dari jari jempol kakiku. Wajahku memucat. Tak tahan dengan si merah yang mengeluarkan bebannya dengan sangat banyak.
“ya Allah teh. Kenapa kamu?” ibu yang berada di pintu kaget dan menampakkan wajah yang khawatir.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu. Hanya bisa meniup-niup kakiku dan mengelap si merah oleh perban. Akhirnya ibu menghampiriku.
“ya sudah, kamu tidak usak sekolah dulu. Biar sakitmu mendingan.”
“ta-tapi bu.” Baru saja aku mau menjelaskan. Ibu sudah memotong pembicaraanku.
“sudah. Sudah ibu bikinin surat aja ya ke guru teteh.”
Tanpa kata-kata yang aku bicarakan lagi, ibu keluar dari kamarku. Dan nampaknya ibu akan membuatkan surat sakit untukku. Fiuuh, rencana yang aku susun sedemikian rupa dan berharap agar berhasil. Malah menjadi kejadian yang nyata. “Aku kapok deh ya Allah ga gini-gini lagi. Malah aku sendiri yang kena sasarannya.” Gumamku dalam hati.
Ya, ini berarti. Besok pagi memakai si si butut itu menjadi kenyataan. Dan tak ada kebohongan yang aku lakukan. Aku bersorak-sorai di dalam hati. Karena si perban dan si merah memang nyata kebenarannya. “horeeeeeeeeeeeeee.”
Aku bersihkan bercak-bercak si merah yang menempel di lantai dengan kain basah. Susah. Si merah nampaknya sudah betah menempel di lantai. Tetapi, aku coba meggosok lebih bersemangat. Yeahh, akhirnya si merah menghilang juga. Setelah aku membersihkan bercak-bercak si merah. Aku merasakan kembali sakit di kakiku. Hanya tarik napas dan keluar napas yang aku lakukan. Untuk meringankan rasa sakitku. Tapi, tetap rasa nyut-nyutan kembali lagi datang. Sabar.sabar.sabar. wajahku sudah memucat kembali, keringat dingin mengalir dengan senangnya di sekujur tubuhku.
Plak..plakk..plak (suara tamparan). “duh, siapa lagi yang sms? Ngagetin aja nih hape. Kirain ada yang di tampar.” Aku bukakan hape jadulku. 1 pesan dari... aku baca lagi. “hah siapa nih?” cepat-cepat aku baca lagi sms ke bawah.. ke bawahh.. dan ke bawah. Ternyata yang sms. Teman dekatku, “bara”. Sms yang kurang penting. Aku tidak sempat membalas pesan darinya. Yang ada aku membaringkan tubuh lemahku di kasur kapukku. Tiba-tiba rasa sakitku hilang begitu saja. Kenapa hilang? “asiiikkkk, makasih Ya Allah” batinku mulai bersyukur nampaknya.
Aku terbangun dari pejaman mataku. Menggaruk kepala sambil menguap. Hooaaamm. “nikmatnya tidurku ini.” Sambil bangun dari kasur kapukku. Awwww. “Ko sakit lagi sih?” kataku setengah kaget. Aku baru sadar, kenapa tadi tidak terasa sakit. Ternyata aku tidur. Walahh, nyatanya tadi aku hanya mimpi saja. Berarti, aku harus tidur agar rasa sakitku hilang. Ya ide yang bagus. “oke Aisya.. kini kamu harus tidur. Biar besok pagi kamu sembuh.” Tegasku kepada diriku sendiri.
Setelah usai melaksankan shalat isya. Rupanya Aisya benar-benar tumbang. Ditemani ribuan suara airmata dari langit, ia tertidur dengan lelap.
∞∞∞



Malaikat pagi
Hari ini aku memulai kembali bersekolah. Aku melangkahkan kakiku dengan gagah. Meskipun dengan keadaan sakit kaki. Tapi, aku berteriak kepada seluruh dunia “BAHWA SAYA BISAAAA!”. Tak ada yang bisa menghalangi aku dengan si butut. Akan aku lewati semua rintangan yang ada. Jalanan becek, licin, banyak lumpur. Itu kecil. Belum seberapa. Aku tekadkan dalam hati, bahwa apapun yang menimpaku. Aku akan selalu berusaha dan berdo’a.
Baru saja setengah perjalanan. Aku menelan ludah. Aku harus melewati jalan becek ini? Perasaan pesimisku datang kembali. Apakah aku bisa? Perasaan itu datang menghantuiku. Dengan sangat berat hati aku lewati tantangan ini.
 Hap.. Hap.. Hap.. gedebuggg!! “aaawwwwwww!!” teriakku. “aduuh... sakit bangeeet.” Sambil berdiri memegang pantatnya dikarenakan jatuh tepat di sebuah kubangan lumpur dengan kepala melirik ke kanan, kiri, depan dan belakang.
“fiuuh, ga ada orang untungnya. Jadi aku ga malu.” Batinku sejenak senang karena tak ada yang melihat kejadian memalukan. Baru saja batinku merasakan kesenangan dan akan berjalan. Tiba-tiba,
  “haha.. kenapa atuh neng ais kalotor gitu? Udah mandi lumpur yaaa?” ejek pemuda di kampungku.
 “hah? Eh emm. Ehh mm,euhh ini kang. Ini jatoh. hehe” Sambil menggaruk kepala dengan anggukan kepala dan tertunduk.
“oh jatoh toh.. ati-ati atuh neng Ais ari jalan teh. Tuh kalotor gitu ih. Bade ka sakola kan?” tanya pemuda itu.
“hehe. Mm-mmuhun kang bade sakola. Tapi, kang ini teh malah kalotor gini. Kumaha atuh nya?” bingungku datang kembali.
“eh, muhun. Akang teh nyandak motor. Neng Ais bade di antar ku si akang ganteng ieu?” pedenya keluar tiba-tiba.
Sontak aku terkejut ketika kang fikar berbicara dirinya “ganteng”. Aku bengong dengan wajah yang mungkin tidak terkontrol.
“heh neng Ais! Kalah ngalamun gitu!” sambil menyadarkan lamunanku dengan menggerak-gerakkan tangannya ke wajahku.
“eh apa kang? Tanyaku.
“tuh nya.. dengerkeun geura neng Ais matakna. Gini, neng bade di antar ka sakola? Kitu. Ngartos neng geulis?” jelas kang fikar.
“ohh eta. Eh sanes nyarios atuh kang tatadi.” Sambil menepuk pundak kang fikar.
“tuh kan, aneh ah si neng mah. Apan tadi teh atos nyarios nengggggg!”kini,  raut muka kesalnya menyala-nyala.
“hehe. Hapunten atuh kang. Ngambek ah sakitu ge.  Bercanda atuh kang Ais mah.hehe, Hayu atuh kang urang ka sakola?” tawarku ke kang fikar dengan halis mengangkat ke atas dan ke bawah. Tandanya aku mengajak dirinya.
“hmmm. hayu atuh”. Yang asalnya muka bersemangat. Kini layu.
Aisya dan kang fikar menaikki motor itu.
“hayu kangggg. Ngebuuuttttt!” seruku kepada kang fikar.
“siappp neng Aisya! Laksanakan! Hehe” jawab kang fikar dengan senyum lebar. Kini ia tidak layu layaknya bunga mati. Tapi, sekarang seperti bunga yang mekar. Tersenyum dengan merekah.
            “eh kang, hatur nuhun ya. Punten nya direpotin.” Aku turun dari motor kang Fikar.
            “sami-sami atuh neng Ais. Kanggo neng Ais apa sih yang nggak?” ledek kang fikar sembari ditemani senyum lebarnya.
            “emm, muhun atuh kang. Ais telat nih kang. Jadi, teu tiasa lami-lami ngobrol. Sakali deui nuhun ya kan Fikar.” Aku pun balas senyum lebar kepada kang fikar. Sembari meninggalkannya dengan lari-lari kecil.
            “eh, mangga atuh neng. Tong hilap nya!” kang fikar berteriak kepadaku.
Aku berputar badan. Maksud kang Fikar apa sebenarnya?
“hah? Tong hillap naon kaaaaang?” tanyaku bingung dengan suara diteriakkan.
“emm, hehe henteu neeeeeng.” Kang fikar yang sedang berteriak langsung menunuduk. Entahlah apa yang akan di katakannya. Yang pasti kang Fikar berubah wajah menjadi kemerahan. Seperti bunga mawar yang sedang mekar. Merah merona.
Tanpa basa-basi lagi, aku tidak terlalu memperhatikan keadaan kang Fikar. Aku lari sekencang-kencangnya dengan seragam yang kotor. Kaki yang sakitpun tak terasa jika di bawa dalam keadaan darurat seperti ini.
Huh..huh..huh.. kali ini aku merasa cape. perjuangan berat kali ini terasa olehku. Dari pagi buta hingga sinar matahari mulai terasa. Dari becek-becekan, jatuh di kubangan lumpur, dan di antarkan oleh kang Fikar. Aku melewati ruang piket dengan berlari. Tanpa melihat ke isi ruangan ini. Yang terpenting dan yang ada di benakku kini adalah gak telaatttt.
“Aisyaaaaa!!! Sini kamu!” seseorang memanggilku dari belakangku.
Glek. Aku telan ludah. Entah apa yang kan di hadapi olehku kali ini. Rasanya keringat dingin menjalar di seluruh tubuhku. Antara takut dan bingung. Aku diam setelah ada seseorang yang memanggilku. Mau menghampiri, aku semakin tak menentu. Tanganku dingin dan berkeringat. Rasanya aku ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Dengan wajah pucat dan kepala tertunduk-tunduk aku menghampirinya. Mencoba memberanikan diri meskipun sebenarnya aku tidak berani.
Ternyata yang memanggilku pak Arman. Jantungku semakin berdebar. Rasanya mau copot ketika aku mencoba memandangnya. Memang, pak Arman itu guru killer kami. Tubuhnya yang lumayan tegap.
“a-aada apa pak?” tanyaku dengan keringat dingin bercucuran.
“jam berapa sya sekarang?” pak arman bertanya dengan tersenyum sinis kepadaku.
Aku melihat jam tanganku.
“jam 8 pak” jawabku dengan ragu.
Pak arman melihat lapangan. Nampaknya dia akan menghukumku kali ini.
“sekarang, silahkan kamu berlari di lapang itu lima kali putaran. Dan Jangan menguranginya!” pak arman yang tegas itu tidak dapat dirayu sedikitpun. Memang sudah sifatnya yang tegas dia disegani oleh semua orang.
“ta-tapi pak?” timpalku dengan hati deg-degan tak karuan.
 Pak Arman tak mendengar keluhanku. Pak arman meninggalkanku sendiri. Rupanya tadi tebakanku benar pak arman akan menghukumku.
Yaahhh.. sialnya hari ini. Sabar tingkat dewa.
Dengan kaki yang dibaluti kain putih aku berlari. Sakitnya bukan main. Tapi, karena ini hukuman. Mau gimana lagi? Emang udah nasibku aja kali ya.
Teman-temanku melihat ke arahku. Tepat ke arahku yang sedang berlari. Mungkin mereka berpikir si aisyah kenpa ko lari-lari? Mungkin itulah yang dapat ku tebak dari semua orang yang melihatku. Sedih, Malu, Sakit yang aku rasakan sekarang. Tuh guru gak kasian gitu sama kau yang lagi sakit kaki. Tegaaaaaaa…
5 kali putaran lapangan rasanya membuat aku pusing. Bahkan jika perlu, aku pingsan detik ini juga.
Aku duduk tertunduk. Napasku tersengal-sengal pertanda aku lelah.  
“lagi ngapain kamu sya?”
Tiba-tiba saja, ada yang datang menghampiriku. Menyodorkan minuman.
Aku tak melihat siapa yang memberinya. Yang pasti aku cape. Ya aku lelah. Rintihku dalam hati.
“kamu kenapa sya lari-lari kaya gitu? Kaya orang gila aja” gerutunya dingin. Membuat  tensiku naik.
“gapapa” cetusku dingin juga.
“kamu telat ya sya?” tanyanya dengan nada perhatian.
Sembari tadi, aku belum tau siapa orang yang memberiku minum dan membuat tensiku naik. Dengan perasaan yang penasaran, akhirnya aku menatapnya ke atas. Wajahnya asing bagiku. Tak ku kenal bahkan. Dengan sedikit malu, aku bertanya kepadanya.
“kamu murid baru disini?” celetukku dingin kepadanya.
Dia akhirnya duduk di sampingku.
“iya, aku murid baru disini” lalu dia menyodorkan tangannya.
“aku Dafa.”
Aku menyalaminya kembali.
“aku Aisya. Salam kenal daf” kali ini aku tersenyum.
Dafa. Seseorang yang membantuku pagi ini. Malaikat di pagi hari bagiku. Dia berpostur tubuh tinggi, rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya yang manis membuatku terbayang-bayang hingga pembelajaran tiba. Daf, pergi deh dari pikiran gue! Gerutuku dalam hati.
Hari itu, aku hanya memikirkan Dafa. Entahlah apa yang membuatku terus membayang-bayangkan dia. Mungkin karena efek dari dia memberiku minum pada saat lari pagi tadi. Jadi, inilah akibatnya. Ahh, kacau kacau.
Kelasku sepi sore ini. Hanya aku yang sendiri di ruangan kelas. Aku pulang paling terakhir sore ini. Ditemani kursi dan meja lah aku diam di kelas.
“belum pulang?” tanya seseorang dari balik pintu luar kelas.
“keliatannya gimana? Belum kan?” jawabku dingin.
“iya, kamu belum pulang. Pulang gih. Udah sore. Atau kamu mau bareng pulang ma aku? Kosong satu nih jok.” Tawaran dia membuatku wajahku memerah seketika.
“ga usah makasih tawarannya. Bisa pulang sendiri ko.” Jawabku dengan dingn juga. Padahal, dalam hati “gue pengen banget pulang bareng lo daf. Pengen banget malah daf.” Gerutuku lagi di dalam hati.
“seriusan nih? Dia meragukan kalau aku berani pulang sendiri.
“iye, sono pulang aja daf. Aku pulang sendiri aja. Udah biasa ko pulang sendiri.” Aku mencoba untuk meyakinkannya.
“ya udah, kamu hati-hati ya sya. Cepet pulang ya.” Nasihat dia lagi-lagi membuatku nge-fly ke angkasa. Dia memberiku nasihat dengan senyum manisnya. “Daf.. bener deh lo emang malaikat pagi gue.” Cetusku dalam hati. Rasanya hari ini adalah hari yang paling sedih dan bahagia bagiku.
∞∞∞









Friday, it’s happy day
Lagi-lagi aku memikirkan Dafa. Dia demen banget sih diem di kepala gue. Kabur dong dafa kabur dari kepala gue. Itulah yang aku lakukan agar pikiranku tidak selalu tertuju pada Dafa. Memang, dengan cara ini tidak ampuh. Nampaknya memang ini yang dinamakan jatuh cinta. Terbayang-bayang dimanapun dan kapanpun.
Ku raih pensilku dan buku sketch book ku. Renacananya, aku akan menggambar. Agar bisa melupakannya sejenak saja.
Ku goreskan isi pensil itu. Ku ukir dengan penuh penghayatan. Tak lupa dan tak sadar, aku tersenyum-senyum sendiri melihat gambar  itu. Ya, Dafa sudah ada dalam buku sketch bookku. Dia mirip sekali dengan dafa yang nyata. Sayangnya, dia berada dalam dimensi yang berbeda. Berada dalam dimensi gambarku.
Bosan dengan hobiku, aku meraih handphone ku. Handphone jadul yang hanya bisa digunakan untuk sms dan menelpon saja. Tertera di layar handphone ku 5 sms. Pesan pertama dari temanku dara, pesan kedua dari bara, pesan ketiga dari nina, pesan keempat dari nomor asing dan pesan terakhir dari seseorang. Ya, dia farhan. Seseorang yang pernah mengisi hatiku.
Aku tak membalas mereka semua. Dengan alasan, aku malas membalas dan habis pulsa.


Tak terasa olehku. Detik-detik Ujian Nasional sebentar lagi akan di mulai. Mungkin sekitar beberapa minggu lagi. Mendengarnya pun setres. Apalagi mengerjakan soalnya. Semoga saj aku baik-baik saja.
Ku putuskan malam ini aku akan belajar di tempat kesayanganku, di meja belajar dekat jendela kamarku.
∞∞∞











Suara riuh anak-anak membangunkan lamunanku. Untunglah, Dafa tidak sekelas denganku . Apa jadinya kalau Dafa di kelasku? Bisa-bisa aku menjadi patung jadi-jadian karena lama mematung dan tak bicara. Dafa berada di kelas 9f sedangkan aku di kelas 9e. Lebih tepatnya, kelas kami berdampingan.
Setiap aku melewati kelas 9f, yang terbersit dalam pikiranku  adalah Dafa. Sekali-kali aku melirik kelas itu. Dan aku mencari Dafa. Tepat sekali, dia duduk di dekat jendela dan duduk dibelakang. Baguslah. Jadi, ada kesempatan besar untukku agar dapat melihatnya ketika aku melewati kelas 9f.
Bel istirahat berdering dengan nyaring. Anak-anak berduyun-duyun untuk jajan ke kantin bu asih. Disana, anak-anak bisa sepuasnya jajan dengan enak, murah dan kenyang. Gorengan lah yang menjadi jajanan terlaris. Selain enak dan murah, jajanan ini pun mengenyangkan.  Selain itu, makanan ringan pun menjadi makanan laris bagi anak perempuan yang suka ngemil.
“bi, semuanya ini jadi berapa?” tanyaku pada bi asih.
“3000 neng. Ga nambah lagi neng Aisya?” bi asih merayuku kali ini.
“haha.. ah bibi. Udah ah bi. Cukup segini aja. Kalu di diskon sih mau bi.” Godaku pada bi asih.
“ah, neng bisa aja ah. Nih kembaliannya. Makasih ya neng.” Bi asih tersenyum kepadaku. Akupun mengangguk menandakan aku pun berterima kasih pada bi asih.
Aku berjalan dengan temanku Dara. Kami bercakap di sepanjang perjalanan menuju kelas. Tiba-tiba..
“eh ada bocah yang jajan nih” sosok itu lagi yang membuatku kaget. Dafa selalu datang dan berbicara secara misterius. Tanpa bisa ku tebak sebelumnya. Dia duduk di pelataran mesjid dengan jaket abu-abunya dengan polesan garis-garis putih di lengannya.
“terus kenapa kalau aku jajan?” aku mencoba dingin lagi dan memasang wajah jutek. Sebenarnya, aku tak ingin jika aku memasang muka seperti ini. Aku ingin sekali ketika aku bercakap, bertemu dengan Dafa aku memasang wajah yang ramah dan manis. Tapi, aku tak bisa. Aku belum bisa untuk seperti itu. Aku malu.
“sewot amat sih lu cah jawabnya. Aku cuman nanya aja ko sya. Kira aja, bisa nraktir. Hehe” godanya kepadaku.
“maunya di traktir! Jajan aja sendiri” aku meninggalkannya dengan menjulurkan lidah. Tak sepantasnya aku seperti itu. Duh sya sya..
Aku tak melihat bagaimana ekspresi Dafa selanjutnya. Yang pasti, aku malu. Sangat malu.
“eh sya, nanti pulang sekolah junior mau pada latihan tuh. Kamu mau ikut ngelatih ga?”Ucap nina mengajakku.
“mm.. bebas. Tapi, ya okelah. Aku mau ngelatih. Kangen nih sama anak junior. Hehe” jujurku pada nina.
Jum’at ini, memang jadwal latihan ekstrakulikuler Pramuka di Smp. Sebagai senior, akupun wajib untuk melatih.
Latihan kali ini aku cukup bersemangat. Anak-anak junior pun nampaknya senang dengan adanya senior melatih. Keberadaan kami, membuat mereka bersemangat dan tertawa bersama. Ya, aku senang menjadi senior. Karena bisa mebuat anak-anak tersenyum dan bersemangat.
Memang, angkatan pramuka ku dapat dikatakan angkatan pramuka paling seru. Kami, mengajak para adik junior agar ceria dan serius. Pada saat latihan, kami mengajarkan keseriusan namun santai. Pada saat istirahat, kami mengajak adik junior untuk bercanda, bermain permainan, dan curhat bersama.
Dibalik pintu itu, aku rasa ada seseorang. Namun aku tak tau siapakah itu.  Aku mencoba untuk mendekatinya. Ku lirik dengan berhati-hati agar tidak mengagetkan dia. Dugaanku benar, si mr. Misterius yang ada di balik pintu itu. Tanpa berbasa-basi dan berkata-kata aku minggalkan tempat itu. Fiuuh.. untunglah dia tidak melihatku.
“kamu ngelatih anak-anak ini?” tanyanya di balik pintu.
Pertanyaan ini mengagetkanku seketika. Aku yang baru saja meninggalkan tempat itu, nampaknya bukan penghalang baginya untuk bertanya.
“iya. Emang kenapa?”aku balik bertanya kepadanya.
Di balik pintu itu, dia berdiri mematung dengan mengenakan jaket andalannya. Jaket abu-abu dengan garis putih di lengannya. Menjadi ciri khas dirinya. Tak lama aku bertanya, dia menghampiriku.
“gapapa sih. Cuman, punya jiwa solid juga ya kamu. Mau Ujian gini aja, kamu masih tetep mau ngelatih.” Ucapnya dengan senyum termanis yang dia milikki.
Dalam hati, ni orang baik bener sih. Perhatian banget. Udah cakep, baik lagi. Aku kagum ke kamu deh Daf.
“yaiyalah, jadi seorang Pramuka sejati itu harus bisa solider. Lagipula, kewajiban juga jadi senior itu harus menurunkan ilmunya ke adik-adiknya.” Aku menceramahinya dengan tak sadar.
Ku lihat, dia tersenyum lagi. Memang Dafa adalah lelaki yang baik, ramah, misterius, nyebelin, perhatian dan memiliki senyum yang begitu manis. Aku gak nyesel kenal dia.
“cieelah, pramuka sejati? Aku juga anak pramuka ko. Jangan salah.” Dia membela diri kali ini.
Whaaatttt? Dia anak pramuka juga?. Aaah, semakin aja deh aku mengagumi dia. Aku tanya dia lebih detail kali ini.
“anak pramuka? Seriusan?” tanyaku antusias. Ku harap, dia menjawab pertanyaanku dengan antusias juga.
“iya, di smp ku dulu aku anak pramuka. Aku juga seorang senior kaya kamu. Malah, aku tebus LT 3 waktu itu.” Dia menjawab pertanyaanku dengan penuh antusias.
“wow. Hebat juga ya. Ceritain dong daf.” Kali ini, aku bercakap tidak sedingin waktu itu.
“males cerita ah. Lain kali aja. Aku ikut ngelatih ya ? boleh ga?” tanyanya dengan penuh harapan.
Aku diam mematung sejenak.
“pelit amat lu ah gamau bagi-bagi pengalaman. Kalau emang mau dan bersedia, silahkan aja.” Jawabku dingin kembali.
Aku bersorak riang kali ini. Dapat dikatakan, aku bisa melihat dan memandang dia lebih lama. Horeeeeeeeeeeeee batinku berteriak kencang.
Jam 5 lewat 15. Waktunya kami pulang ke rumah masing-masing. Adik-adik junior ku menyalami kami sebagai kakak seniornya. Ada yang di jemput oleh orang tuanya, ada yang pulang sendiri, ada yang naik angkot dan aku sendiri memilih untuk naik angkot.
Ajakan dari Dafa, ku tolak juga untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya aku ingin dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Namun, nyaliku tampaknya ciut dalam hal seperti ini. Semoga, untuk ajakan ketiga kalinya aku tidak menolaknya.
Aku membaringkan tubuhku sejenak. Remuk rasanya badanku kali ini. Seharian penuh melatih adik junior. Ku tatap atap langit-langit kamarku. Ku bayangkan semua peristiwa tadi. Hingga aku tersenyum-senyum sendiri dan merasakan terbang ke angkasa. Senangnya hari ini....
∞∞∞



Misteri di kebun jagung
Ujian Nasional tinggal beberapa hari lagi. Nyaliku kali ini di uji. Persiapan fisik dan mental sudah ku siapkan di mulai dari sekarang. Permintaan do’a pada kedua orang tua sudah ku lakukan. Tinggal menunggu dan mengerjakan soal dengan tenang.
Persiapan fisik dan  mental pun belum cukup. Spiritual pun harus lebih di persiapkan dengan matang.
Aku berjalan menuju mading di sekolahku. Hanya sekedar untuk membaca  dan penghilang rasa bosan saja bagiku. Kertas-kertas tentang berbagai berita tertempel dengan rapi di mading. Dari berita seputar sekolah, berita luar, berita tentang kepramukaan, berita olahraga dan  berita tentang keagamaan.
Tiba-tiba saja, mataku tertuju pada salah satu berita. Kertas yang di tempel cukup menarik. Dengan hiasan pohon dan mesjid yang berwarna hijau dan biru, memberikan suasana ketenangan. Aku baca dengan seksama. Berita itu menarik minatku. Ya, berita itu sedang di butuhkan olehku kali ini. “ Sukses UN dengan Motivasi dan Muhasabah bersama “. Ini yang kucari beberapa hari ini. Tanpa basa basi, ku ambil kertas ini.
“vir, coba lihat nih ada doa bersama sebelum kita UN.” Aku menunjukkan kertas itu pada Vira. Ajakku pada vira teman ku di Pramuka semoga tidak sia-sia.
“wah, bagus nih sya. Aku juga lagi butuh penenang nih sebelum Ujian. Eh, emang kapan nih acara?” dia nampaknya  berminat juga dengan ajakanku.
“sini sini.” Aku mengambil kertas itu dari tangan vira. “Aku bacain deh. Denger yah, Acaranya  tanggal 17-18 April 2013. Bertempat di mesjid Daarurt Tauhid bandung. Acara dimulai dari jam 17.00 sampai jam 08.00 pagi. Artinya, kita disana nginep vir. Gimana, berminat ga?” tanyaku dengan harapan semoga saja dia mau dan berninat.
“nginep? Yang bener aja sya?” dia terkejut pada saat aku berbicara menginap satu hari. Padahal bagiku ini bisa jadi pengalaman dan tantangan.
“iya lah nginep. Emang Vira mau kita malem-malem pulang dari Daarut Tauhid, terus di jalan ada apa-apa? Kan jauh Vir Daarut Tauhid itu. Dari sini, mungkin sekitar 1 jam 2 jam.” Jawabku dengan meyakinkannya. Dia tampaknya ragu dengan ajakanku. Memang, Vira itu seorang anak yang dapat dikatakan penaknut. Tapi, dia adalah seorang teman  yang begitu baik dan memiliki wajah yang cantik.
“mmm. Aku sih mau Vir. Tapi, apa boleh ga ya sama bapakku? aku ga yakin nih bapakku bakal ngijinin.” Ucapnya terdengar pesimis. Dari raut wajahnya, dia pasti ingin sekali mengikuti acara itu. Namun, orang tuanya terlalu mengekang dia untuk pergi kemana-mana. Maklumlah, anak perempuan satu-satunya.
“aku yakin ko, kamu pasti di ijinin.” Celetukku dengan senyum semangat.
“tau dari mana kamu sya? Sotau deh ah.” Raut wajahnya kini semakin tak bersemangat.
“gini nih sya” sambil merangkul pundak Vira.
“denger baik-baik ya. Ada ga orang tua yang ngelarang anaknya buat ngedoa bareng? Ga kan? Orang tua pasti setuju aja Vir kalau kegiatan itu emang positif dan baik buat kita. Asalkan kita emang bener-bener aja dan ga ngeboongin orang tua. Iya kan?” nasihat kua sotau pada Vira di dengar seksama oleh Vira. Dia kembali mgembangkan senyumnya.
“lu bener sya. Semoga aja ya aku di ijinin. Nanti deh aku kabarin lagi besok siang lewat sms. Gimana?” tanyanya padaku dengan penuh semangat.
“ok. Besok aku tunggu ya smsnya. Jangan lupa ya Vir!” aku meninggalkan dia dan berpamitan untuk pulang.
Di perjalanan menuju rumah, aku berpikir dan kembali membayangkan Dafa. Sebenarnya, aku ingin sekali mengajak Dafa untuk mengikuti Doa bersama ini. Namun, sekali lagi. Nyaliku ciut jika menghadapi Dafa. Ku ajakki sahabatku, namun dia tak bisa mengikuti acara itu dikarenakan masih ada acara yang jauh lebih penting dari ini. Aku hanya menghela napas. Semoga saja Vira jadi untuk ikut ke acara itu. Agar aku, ada teman untuk sekedar bercakap di perjalanan.
Waktu pun datang dengan begitu cepat. Seperti kereta, dia berjalan begitu cepat dan sulit untuk di hentikan. Kali  ini, aku mendapat berita yang menyenangkan. Vira jadi untuk ikut. Yeaaahh batinku berteriak dengan senang.
Ku persiapkan segala barang yang menurutku penting. Di mulai dari alat tulis, minum, makanan, mukena, al-qur’an dan uang. Semua itu tak ada yang boleh teringgal.
Setelah berpamitan pada ibuku dan bapakku, aku pergi  sendiri menuju pemberhentian angkot. Ibuku nampaknya khawatir seorang anak gadisnya akan bepergian jauh tanpa di antar. Namun, aku meyakinkannya dengan kebranianku pergi sendiri.
Kebun jagung yang sedang panen, membuat soreku ini menjadi lebih berwarana. Kuning yang menghiasi buah jagung, sama seperti langit yang dihiasi oleh kungnya sinar matahari. Sinar sore itu, membuat hatiku menjadi tentram dan damai.
Langkahku, kubuat dengan perlahan. Agar aku dapat merasakan sorenya di kebun jagung yang sedang panen. Namun, langkahku terhenti ketika ada seseorang yang berhenti di depanku menggunakan motor.
“maaf pak, saya mau lewat.” Kataku dengan hati-hati.
“oh, neng mau lewat. Lewat aja neng. perkenalkan bapak ketua partai terkenal.” Sambil menyodorkan tangannya.
Hatiku berdegup kencang. Baru kali ini aku di lakukan seperti ini. Keringat dingin mengucur tak henti-henti di tubuhku. Pikiran pun sudah negatif dan rasanya aku ingin lari sekencang-kencangnya.
Lelaki itu, berbadan  tegap. Sedikit gemuk, kemejanya bercorak kotak-kotak dan berwarna pink. Topi koboy coklat yang dikenakannya membuat aku takut meskipun ini dalam hal penampilan. Matanya yang sayu pun menggambarkan dirinya telah bermabok.
“maaf pak. Saya tidak ada waktu untuk hal seperti ini. Permisi pak.” Kali ini aku lari. Aku mengangkat rokku dan lari sekencang-kencangnya. Saat ku lihat lelaki itu, lelaki itu sedang melirikku sinis. Nampkanya dia akan berkata sesuatu tentangku.
“hey kamu  main lari aja! Lihat nanti kamu akan habis olehku!.” Dia berteriak dengan berkata tersengal-sengal. Terlihat olehku, dia marah padaku karena aku tidak meladeninya untuk ngobrol. Wajahnya merah dan jarinya menunjuk-nunjuk padaku.
Lariku kali ini sedikit memperlambat. Pikiran negatif berkecamuk di otakku. Begini lah pikiran negatifku. Mungkin, ketika aku sedang berlari lambat, dia mengikuti dengan motornya di belakangku. Lalu, dia membekam mulutku dengan bius dan pada akhirnya aku di bawa olehnya untuk pergi jauh. “Ihhhh.. aku merinding memikirkannya. Semoga saja pikiranku itu tidak kenyataan” Batinku berkata.
Ku lihat ke arah belakang. Dengan ragu-ragu aku meliriknya. Sambil terus berlari aku melirik ke arah belakang. Dan berharap dia sudah tak ada di jalan itu.
Syukurlah.. rupanya, aku masih di selamatkan kali ini. Lelaki itu sudah pergi tanpa meninggalkan jejak. Hanaya kata-katanyalah yang membuat aku ketakutan dan terbayang-bayang.
Tempat pemberhentian angkot itu, sudah ada di depan mataku. Sambil beristirahat dan menghela napas aku menuggu angkot segera datang. Vira akan menungguku di jalan pahlawan. Aku pun memilih angkot yang jurusannya menuju jalan pahlawan.
Jalanan lumayan sepi. Cahaya kuning dari matahari, kini kian meredup. Aku terdiam sendiri di dalam angkot itu. Mungkin, lelaki tadi itu setres atau gila. Kalaupun waras, mungkin dia berpikir. Bahwa aku ini permpuan yang mengenakan jilbab. Bahkan pakainku pun tidak senonoh. Rok hitam, jaket hitam, tas hitam, kerudung putih. Tak ada yang membuat ketertarikan. Seharusnya dia tidak memperlakukan aku seperti itu. “Lelaki aneh!” Kesalku dalam hati.
Aku dan vira menelusuri perjalanan yang cukup jauh. Jalan dipati ukur kami tembus dengan angkot Caheum ledeng. Gedung sate terlihat indah dengan lampu-lampu yang menghisai di sekelilingnya. Menjadikan sore ini, sore yang terang dengan lampu. Ketakutanku, terbayarkan oleh perjalanan yang menyenangkan ini.
Kronologi perjalananku, ku ceritakan secara detail pada Vira. Dia terkejut dengan ceritaku. Namun, dia pun tersenyum bangga karena aku masih berani saja melakukan perjalanan.
∞∞∞








Pertemuan Indah..
Hujan rintik-rintik melengkapi keceriaan kami berdua. Dialog demi dialog kami utrarakan satu sama lain. Kami sangat senang dengan perjalanan ini.
Acara sudah mulai sekitar 15 menit yang lalu. Aku dan Vira terlambat. Senyum-senyum panitia membuat aku merasa lebih tenang. Ku tuliskan namaku di buku tamu beserta asal sekolah, email dan nomor kontak. Semuanya ku isi dengan lengkap. Akhirnya, aku pun memasuki ruangan besar tersebut bersama Vira.
Riuh suara peserta membuat suasana gaduh dan tak teratur. Akhirnya, panitia turun tangan untuk menenangkan suasana.
Acara terpotong dengan istirahat dalan shalat maghrib. Mesjid yang besar dan nyaman membuat hati ini semakin tenang. Acara akan di mulai setelah isya.
Akhirnya, acara motivasi dan muhasbah akan di mulai. Para peserta nampaknya sudah tak sabar dengan acara ini. rangkaian acara ini di buka oleh sang MC. Dua pemuda yang menjadi MC membawakan suasana menjadi lebih hidup. Mereka meberikan berbagai lelucon dan tebak-tebakkan yang membuat kami tertawa bersama.
“saya akan menyumbangkan suara emas saya untuk adik-adik sekalian. Selamat mendengarkan” ucap sang MC dengan tersenyum.
Suaraemas itu, nampaknya biasa-biasa saja bagiku. Itu hanya suara perak menurutku. Hanya saja, musik itu membuat kami terhibur dan bernyanyi bersama.
Gedung dipadadati dengan suara peserta yang bersorak dan bertepuk tangan. Nyanyian itu berhenti ketika kami bertepuk tangan dan bersorak.
“bagaimana adik-adik suara emasnya? Terhiburkaaah?” ucapnya lagi dengan suara yang semangat.
“terhibuuuuuuuurr” jawab semua peserta dengan penuh semangat juga. Terkecuali aku, aku lumayan terhibur.
“baiklah, saya akan memperkanalkan diri. Nama saya Farhan. Lengkapnya Farhan Yudinugraha. Kalian bisa panggil saya kakak Farhan atau Kak yudi. Dan saya pun akan memperkenalkan teman saya juga. Dia ini teman seperjuangan saya. Yu kita panggil sama-sama... kak zulfiiiiii...” sambil mengajak temannya untuk memperkenalkan diri.
“ehem.. baiklah kak Farhan. Halooo semuaaaanyaa” ucapnya semangat dan ramah.
“halooooooooo” jawab peserta dengan kompak.
“oke.. nama kakak, kak Zulfi. Nama lengkapnya,  Muhammad Zulfi. Kalian cukup panggil, kak zulfi.” Dia memperkenalkan diri dengan sangat ramah. Bahkan, senyumnya pun tak terlewatkan olehnya.
“baiklah kak zulfi. Adik-adik kayanya udah ga sabar nih sama acaranya. Gimana kalau kita mulai aja acaranya?” tanya sang MC dengan ceria.
“iya nih kak Farhan. Hayulah kita mulai aja. Wajah-wajahnya, wajah udah pada ga sabar nih.” Candanya membuat kami tersenyum terhibur.
“baiklah.. adik-adikku. Inilah acara yang di tunggu-tunggu... acaraaaa... SUKSES UN DENGAN MOTIVASI DAN MUHASABAH BERSAMA.. selamat menyaksikan.” Ucap 2 MC dengan teriakkan yang membangun semangat.
Teriakan dan sorak sorai menggemparkan gedung itu. Motivasi di bawakan dengan penuh semangat. Kami pun menikmatinya dan terbawa suasana semangat. Nampaknya, para peserta telah terbawa arus sang Motivator.
Motivasi itu telah menggemparkan hati kami juga. Rasa semangat menggelora di dada kami. Semoga saja, semangat ini tidak luntur ketika akan menghadapi Ujian nanti. semoga....
“vir, keren ya tuh acara?” tanyaku penuh semangat pada vira.
“iya sya. Ga nyesel deh aku pergi kesini. Makasih sya ajakannya. Kalau kamu ga ngajak, mungkin aku ga akan bisa sesemangat ini. Thank’s ya sya.” ucapnya dengan semangat yang berkobar.
“haha.. iya, nyantai aja sya. Kewajiban juga buat ngajak ke tempat yang baik. iya kan?” jawabku dengan yakin. Vira tesrsenyum dengan jawabanku tadi.
Vira. Seseorang yang sangat perasa. Jika ada masalah, aku lah yang menjadi pelariannya. Aku menjadi konsultan dia di sekolah. Berbagai macam masalah, pastilah dia mencurahkannya padaku. Dari masalah pacarnya, masalah teman sekelas, masalah sepele hingga masalah yang besar. Aku tuntaskan hingga semua permasalahannya selesai. Tak heran, dia menjadi teman dekat denganku sejak kelas 8 dulu.
Semua sibuk dengan motivasinya masing-masing. Mungkin, berbagai motivasi menggelantung di pikiran masing-masing. Ruangan ini sesak dengan motivasi yang sudah menggelegar. Semua orang memiliki tatapan yang berbinar. Tak seperti sebelumnya, yang lesuh dan tak ada motivasi.
Perkenalan pun menjadi satu tujuan acara ini. Dimana seseorang yang belum pernah bertemu dan tak pernah bercakap, kini dengan adanya perkenalan kami dapat mengenal satu sama lain. Istimewanya sebuah perkenalan, dapat mengenalkan satu manusia dengan manusia lainnya meskipun sebelumnya satu manusia itu dengan manusia lainnya belum pernah bertemu. Indahnya perkenalan.....
Aku belum mengenal siapa yang ada di sebelah kanan ku, siapa yang di belakangku, dan aku pun belum mengenal siapa yang ada di depanku. Hanya Vira yang ku kenali di sebelah kiri ku. Aku masih malu dengan namanya perkenalan. Apalagi jika aku yang mengawali. Lebih baik aku diam saja.
Tapi, aku iri juga pada Vira yang sudah mendapatkan beberapa orang teman. sedangkan aku, belum satu pun yang aku kenali bahkan ku jadikan teman.
Dengan keirianku, akhirnya aku bisa berkenalan dengan beberapa orang. Meskipun awalnya, aku malu. Tapi, aku mencoba untuk tidak gugup di hadapan orang itu.
Dengan memulai jabat tangan, aku memperkenalkan diri dengan senyum terbaik yang ku punya.
“Aisya. Lengkapnya, Aisya Zahra Fanida.”
“Marha. Lengkapnya, Marha Dini Azzakia.” senyum lebarnya membuatku membalas senyumnya kembali.
“kamu dari mana sya?” tanyanya dengan penasaran.
“oh, aku. Aku dari Smpn 19 bandung. Kamu sendiri dari mana?” tanyaku kembali.
“aku dari Smpn 6 Bandung. Salam kenal ya sya.” senyum lebarnya kembali mengembang.
“oh iya, tentu mar. salam kenal juga ya.” kali ini aku senyum selebar-lebarnya, agar dia dapat mengenang senyumku yang begitu amat sangaaaaat manis.
Dengan modal Handphone, aku pun bertukar nomor telpon dengan Marha. Dengan harapan, agar pertemanan kami tidak putus sampai disini. “Selamat bergabung ke dunia pertemananku Marha.. Ku harap kamu bisa jadi teman baikku.” Batinku berkata.
            Malam begitu cepat menghampiri. Dinginnya malam terasa hingga menusuk. Untunglah, aku memakai jaket kesukaanku. Si hitam telah melindungku kali ini.
            Di ruangan yang ramai itu, Sang MC pun menanyakan sebuah pernyataan. Tanpa menggubris sesuatu lagi, aku langsung mengacung. Kak Farhan akhirnya membenarkan jawabanku. Lalu, dia mengambil sesuatu di balik jaketnya. Di balik jaketnya itu, ternyata ada sebuah buku. Buku kecil mengenai agama Islam. Ya tentu aku sangat senang, karena buku pasti bermanfaat sampai kapanpun.

“oh iya namanya siapa? asal dari mana?” tanya kak farhan padaku.
Aku menjawab pertanyaan dari kak Farhan.

“saya Aisya Zahra Fanida kak. Asal dari Smpn 19 Bandung.”
“oh, ya iya. ini nih bukunya ambil.” sambil memberikan bukunya padaku.
Aku pun mengambil buku itu dari kak Farhan. Seulas senyum ku berikan padanya. Dia pun membalas senyum ku.
            Malam ini, aku mendapat hadiah yang sangat indah. Buku yang bagus, motivasi yang menyentuh hati. Satu paket oleh-oleh untuk hati sudah ku kantongi. Tinggal meminta restu pada orang tua, lalu mengerjakan soal. Hanya tarikan nafas dan lantunan do’a lah yang menjadi pegangan ku.
            Mataku sudah tak bisa di ajak kompromi lagi. Rasanya, aku ingin pingsan di tempat karena ngantuk berat. Ini sudah 5 watt, bahkan lebih.
            Vira dan aku tidur di sebuah ruangan yang tentunya, khusus untuk wanita. Tak lupa juga, marha tidur bersama kami di ruangan ini. Dinginnya kota Bandung terasa hingga menusuk ke tulangku. Apalagi jika pagi petang nanti, mungkin Vira, aku dan Marha menggigil kedinginan. “Siapkan fisik mu sya.” batinku menasehati.

Seperti dugaanku, pagi ini pagi yang sangat dingin. Memang di kawasan ini, kawasan yang dekat dengan Lembang. Pantas saja jika dinginnya hingga menusuk tulang.
            Pukul 03.00 pagi, kami bangun untuk melaksankan Shalat Tahajud bersama. Air mengalir dari keran untuk di pakai olehku berwudhu. Air jernih yang dingin pun membasahi wajahku. Rasa segar dan dingin bercampur menjadi satu. Aku, Vira dan Marha menggigil kedinginan. Kami pun pergi menuju Masjid.
            Usai Shalat, kami keluar untuk berdo’a bersama di gedung. Pada saat aku keluar menuju gedung. tiba-tiba...
“gith..” panggil seseorang dari arah meja panitia.
Aku segera mencari sumber suara. Aku langsung menuju meja panitia.
“iya, ada apa ya?” tanyaku pada seseorang itu.
“sini dulu sebentar. Tolong tuliskan nama, asal sekolah, hobi, cita-cita. Nanti, kamu di wawancara ya. amsuk Radio. ok?” tawarannya membuat aku jadi gugup.
“hah kak? wawancara?masuk radio? ga ah, ga mau. malu kak.” timpalku dengan gugup.
“biasa aja kali ah, apapa ko gith. Cuman di tanya kesan dan pesannya aja. Gampang kan? nih isi dulu aja kertasnya.” ucapnya dengan menyebalkan.
“mmm. iya kak.” ucapku dengan malas. Aku langsung mengisi apa yang di perintahkan kak Farhan untukku. Dan langsung ku berikan kembali kertas itu.
Malu dan bahagia yang aku rasakan. Malu karena nanti akan di wawancara, bahagia karena suara emasku nanti akan masuk ke radio. Tak lupa, aku kabari ibuku agar beliau dapat mendengarkan suaraku melalui radio.
Wawaancara itu sebentar lagi akan di mulai. Hatiku berdegup kencang, tidak seperti detak jantung yang biasa ku rasakan. Ini sangatlah mengganggu ketenanganku.
“Bagaimanakah kesannya asetelah anda mengikuti acara Motivasi ini?” ucap sang pembawa acara bertanya padaku.
Di tengah kerumunan orang, aku menjawab pertanyaan itu dengan lancar meskipun aku harus melawan rasa gugupku sebelumnya.
“selama saya mengikuti acara  ini, saya memiliki pengalaman yang sangat berharga. Lalu, dengan adanya Motivasi seperti ini, saya sebelum ujian bisa lebih optimis dan percaya diri. Selain itu, pertemanan saya dengan orang lain lebih ban yak.” dengan senyum, ku jawab tuntas tanpa ada ragu sedikit pun.
“baik, lalu apa yang menjadi pesan anda untuk acara seperti ini lagi?”lanjut sang Penyiar.
“pesannya, bisa lebih di persiapkan lagi dengan baik. lalu, tahun depan ada lagi acara seperti ini.” jelasku pada sang Penyiar.
Suara ku mengalir jernih di radio. Pasti ibu sedang mendengar suara ku di radio. Semoga...
∞∞∞

Pertama dan Terakhir
Ujian tinggal 3 hari lagi. Pelajaran demi pelajaran harus sudah memasuki otak. Bisa tak bisa harus bisa. Aku masih belum mempersiapkannya dengan matang. Otakku jenuh. Sangat jenuh..ahhh!
Aku membuka layar handphone ku. Ada beberapa pesan yang masuk kehandphone ku. Dari temanku Vira dan satu lagi, belum ku kenal nomernya. Nomer asing yang masuk ke layar handphone ku. Segera aku membuka pesannya. Tertera suatu pesan tentang hadits. Aku mebacanya dengan tak berkedip. Siapakah pengirimnya? Batinku penasaran.
Belum tertebak olehku siapakah pengirim pesan itu. Suatu sangkaanpun tak terlintas dalam benakku. Ku ketik beberapa tombol di handphoneku. Dengan bermaksud, aku menanyakan siapakah pengirimnya?
Baru saja aku memasukkan handphone ku ke dalam saku baju, tiba-tiba pesan masuk kembali. Aku langsung membacanya tanpa memperdulikan kepulanganku menuju rumah.
Oh iya, maaf-maaf kakak belum memberitahu ini dengan siapa. Ini dengan kak Farhan Sya.
Itulah pesan singkat yang di ketik kak Fathan untukku. Aku pun langsung membalasnya.
Oh, iya kak gapapa kok. Maaf ya kak sebelumnya, kakak tau nomer Aisya dari siapa? Tanyaku pada kak Farhan melalui pesan singkat yang sangat canggih.
Tak lama lagi, pesan itu masuk kembali.
Kakak tau nomer Aisya dari buku tamu yang kemarin, kan Aisya nyatet nomernya.ya udah, kakak sms Aisya. Lagi pula, kakak ngshare ke semua peserta kok J
Kegeeranku menaik sebelum kak Farhan bilang kalau dia ngeshare ke semua peserta. Untung saja, kegeeran itu belum meluap tinggi. Fiuh !
Pesan demi pesan berlangsung satu hari penuh. Kami bertukar dialog dengan begitu akrab. Keakraban itu di mulai sejak kak Farhan mengirimkan pesan hadits untukku. Selanjutnya, kami membahas berbagai macam kehidupan. Dimana dia tinggal, hingga tentang seseorang yang dia cintai. Kami kupas tuntas dialog itu satu hari penuh. Ya satu hari penuh.....
∞∞∞
Pagi yang cerah mendukung keteganganku. Sekarang, ujian sudah tidak menjadi angan-angan kosong. Namun, ujian sekarang sudah di depan mata. Kali ini aku ujian. Ketegangan itu sirna ketika satu pesan masuk ke handphone ku.
Aisya SEMANGAT ya ujiannya. Jangan kalah sama si UN. Yakinlah dan mohon pertolongonlah pada Allah. Karena Allah itu, lebih dekat dengan urat leher kita.
Pesan yang membuat hatiku mendadak tenang. Terimakasih kak motivasimu membuat ku menjadi lebih tenang. Batinku berkata.

Langkah semangatku menggelora. Bendera spirit berkibar tiada henti dalam benakku. Ku salami punggung tangan ibu dan bapakku, sembari berharap restu dari mereka. Kali ini, aku semangat !
Raut wajah teman-temanku tak seperti biasanya. Mereka benar-benar tegang rupanya. Memang, saat-saat inilah saat-saat dimana kami serius. Sekarang, kami tidak bisa bercanda ataupun sekedar memberikan lelucon. Kami pasrah dengan ujian ini....
Sunyi di ruangan ini. Tak adabunyi yang membuat kami gaduh. Yang terdengar hanya suara pensil yang kami coret di kertas yang penuh dengan soal, suara serutan pensil yang mendecik dan suara jantung yang berdegup kencang.
Ujian pertama di lalui dengan seulas senyum. Senyum tipis yang masih ragu. Senyum ketegangan yang di sebabkan oleh soal Bahasa Indonesia. Kami mengerjakannya dengan lancar, meskipun beberapa soal tengah menjebak jawaban kami. Namun jebakan itu di tuntaskan oleh kami dengan jawaban yang super duper ngasal. Pasrah.. pasrah dan pasrah..
Waktu bergulir dengan cepat. Matahari pun meninggalkan pagi, siang dan sore tanpa meninggalkan jejaknya. Inilah saat-saat yang paling menyenangkan. Ujian telah selesaaaaaiii ! ratusan warga kelas 9 menempakkan wajah yang berbinar-berbinar. Kami bebaaaaass!!!
Sorakan batin kami membuat kami bisa tersenyum dan bercanda kembali. Pesan demi pesan pun menumpuk di handphone ku. Kami mencurahkan hati kami masing-masing tentang ujian kemarin. Kini... tinggal menunggu hasil. Baikkah atau burukkah? Hanya Tuhan yang tahu tentang ini. Dan hanya langit ciptaan nya lah yang dapat memberi kabar kepada kami.....
Langit kembali menitikkan air matanya. Kali ini tak mendukung kebahagiaan dan kebebasan warga kelas 9.
Ku raih ponsel ku yang berada di atas kasur. Tak ada pesan yang masuk selama satu jam yang lalu. Sepi.. benar-benar sepi.
Wajah itu kembali menghantuiku. Wajah yang sudah di kenali beberapa minggu yang lalu. Wajah yang teduh dan tampan yang membuat dirinya selalu di bayang-bayang oleh senyum manisnya. Dia sosok misterius yang selalu memberikan kejutan tanpa ku ketahui sebelumnya. Dafa....
Batinku kini bertanya tentang Dafa. Bagaimankah kabarnya setelah ujian? Apakah dia sehat? Apakah dia baik-baik saja? Batinku berkelahi menanyakan tentang kabarnya yang hilang beberapa minggu yang lalu. Aku merindukan Dafa...
Ku cari kontak di ponsel ku. Ku cari nama Dafa. Selidik mataku menatap layar. Namun, hasilnya? Nihil. Aku kan tidak memiliki nomor Dafa. Jangankan punya nomor Dafa. Sekedar menatapnya saj, aku jadi seorang yang payah. Dia telah membiusku dengan biusan misterinya....
Lelah memikirkan dia. Aku hanyut dalam tutupan mata yang berkepanjangan. Rupanya aku tertidur dalam lantunan kerinduan.
∞∞∞
Hari-hariku kini tak menengangkan seperti hari-hari kemarin. Hari-hariku kinidilanda kebebasan. Ke sekolah, masuk kelas, ngobrol dengan teman, istirahat, dan akhirnya pulang. Itulah hari-hari setelah ujian telah selesai. Monoton.sangat monoton. Lama-lama aku menjadi jenuh.
Istirhat ini, aku jajan di kantin seperti biasanya. Namun, sedari tadi aku tak melihat si misterius itu. Kemanakah dia? Batinku khawatir. Aku duduk di bawah pohon yang melambaikan angin sejuknya padaku juga pada Nira. Sejuknya angin pagi menelusur mengibaskan jilbab putihku. Aku memakan lahap pisang goreng buatan bi Asih. Manisnya pisang dan hangatnya gorengan ini, membuat kenikmatan lidah terus bergoyang.
Di tengah kesibukanku berdialog dengan Nira, aku tersontak kaget ketika ada sosok yang sedang berjalan menuju arahnya. Dadanya berdegupkencang. Sekencang kereta api yang melintas tanpa arah.
“cah. Gimana kabarnya? Lama ya kita ga ketemu?” nada suaranya sedkit dingin, namun perhatian. Aku sudah menunggu moment-moment seperti ini. Sejak beberapa minggu lalu. Aku rindu saat-saat seperti ini. Kembali batinku meluapkan perasaannya.
“ya. Alhamdulillah aku baik.kamu sendiri gimana?” cetusku namun masih tetap ku sisispkan kata-kata perhatianku untuknya.
“mm.. sama, alhamdulillah aku juga baik sya. Nati pulang bareng, mau gak cah?” Cetusnya menawari untuk kesekian kalinya.
Ini adalah kesempatan yang tak boleh sirna lagi. Aku harus menerima ajakan Dafa. Sepertinya dia sangat berharap aku akan menerima tawarannya. Ku putuiskan ajakan ini.
“maaf Daf. Aku ga bisa.” Nada ku dengan hati-hati agar dia tak tersinggung dengan ucap ku tadi. Rupanya aku menolak dia kembali. Duhh. Aisyaaa! Kamu salah berucap sya! Seharusnya kamu menerima bukannya menolaknya. Sentakan batinku memarahiku.
“kenapa sih kamu ga mau? Padahal aku cuman ngajak kamu pulang bareng aja, lagi pula gak ada maksud apa-apa. Ini yang terakhir aku menawari kamu. Nanti sore, angkot itu gak akan ada.” Ucapnya setengah marah. Aku tak menyangka jika dia akan marah seperti ini. Memang, aku salah karena telah menolak ajakan Dafa beberapa kali.
Dia hilang dari hadapanku. Duh, kok jadi gini sih? Ah. Kacau kacau. Aku tak pergi untuk menyusul Dafa meski hanya sekedar untuk menjelaskan atau meminta maaf. Namun, aku tak mampu untuk berbuat seperti itu.
Sore yang kelam dengan rintik-rintik air yang turun ke bumi, menjadi teman di perjalanan ku menuju rumah. Dia menemani ku hingga aku diam mematung menunggu angkot datang menjemputku.
 Dugaan Dafa benar, angkot tak ada yang melewati jalan ini. Tak ada satu pun angkot yang mau membantunya untuk pulang ke rumah. kini, aku hanya terdiam memtung sembari memiliki rasa bersalah yang besar pada Dafa. I’m sorry Daf.. i’m very sorry..
Dengan langkah keterpaksaan, aku pulang dengan wajah lesu dan langkah tergontai-gontai. Seperti biasa, aku melewati jalan yang sepi dan banyak pepohonan agar hatiku kembali tenang.
“cape ya cah?” nada suara itu bersumber dari arah kiriku. Gelikan tawa kecilnya membuat darahku naik sebentar. Namun, aku kenal dengan suara yang tak asing bagi ku. Si misterius dataaaaaaang!!! Batinku berteriak kegirangan.
“gak. Aku gak cape. Udah biasa jalan ko.”jawabku dengan wajah tertunduk. Sebenarnya, aku cape. Tapi, aku tak mau jika dia khawatir padaku.
Dengan motor matic nya, dia mengikuti ku dengan pelan. Dia menyesuaikan laju motornya dengan laju langkahku. Sungguh, dia sangat pengertian.
“udah cah.lu naik aja deh. Ga tega ah liatnya anak cewe jalan sendirian. Udah kecil badannya, pendek, gak ada kekar-kekarnya lagi. Naik aja deh cah! Jangan manja!” sentaknya membuatku kaget seketika. Sebenarnya Dafa kenapa sih? Aku penasaran dengan gelagat dia yang seperti ini.
“gak usah sentak-sentak gitu kali! Biasa aja Daf. Aku juga tau. Tapi aku ga mau Daf.” Jawabku dengan kesal. Seharusnya aku tak bertindak seperti ini. Seharusnya aku menerima ajakannya.
“oke. Terserah kamu deh cah. Tapi, ini untuk yang terakhir kalinya aku ngajak kamu. Cepet bocah tengil, kamu naik sekarang juga!” paksanya dengan menatap Aisya tajam.
Aku diam. Memikirkan apakah aku mau atau tidak. Ku putuskan dengan ucapan yang hati-hati. Agar ucapan yang terlontar sesuai dengan yang ada di hati.
“iya aku ikut!” ucapku dengan dingin. Namun di dalam hatiku yang jauh dan dalam, aku berteriak kegirangan. Karena inilah yang perdana aku di antar oleh seseorang yang aku kagumi.
“daritadi napa sih bilang mau! Susah amat!” dengusnya sembari menjalankan motornya bak kuda yang dipacu oleh sang kusir melesat dengan cepat. Namun, jauh ku tatap dari sudut mataku, dia tersenyum begitu manis dengan pipi yang di balut kemerah-merahan.
Aku tak merespon apa yang di bicarakan Dafa. Satu hal yang dapat menklukan hati ini agar tidak berdegup kencang, ya dengan diam seribu bahasa. Ini jauh lebih aman.
Sedari tadi, tak ada kontak dialog diantara kami. Kami saling diam dan mematung. Hanya angin sore lah yang menggubris kesunyiann kami. Hanya bisikan rumput-rumputlah yang meramaikan jalan ini. Di jalan ini, jalanan amat sunyi. Hanya sorak kebahagiaanku saja yang membuat gaduh suasana di hati.
Tepat. Dafa mengantarku di depan  rumahku. Dialah yang pertama kali lelaki yang mengantar ku pulang. Itu pun karena dia memaksaku untuk di antar. Jika tak di antar, mungkin aku akan pulang ketika matahari pulang ke arah barat.
“thank’s Daf.” Ucapku dengan senyum tipis. Namun tetap bernada dingin.
“lain kali jangan nyusahin orang ya cah! Ya udah aku balik dulu ya. Ini yang terakhir kalinya kita ketemu lho .Baik-baik terus ya cah!” nadanya kini terasa hangat untuk di dengar. Senyumnya pun kini terukir dengan indah di wajahnya.
Tanpa menjawab kalimat terakhir yang Dafa ucapkan, aku terdiam dengan kalimat yang terlontar darinya tadi. Ini yang terakhir kalinya kita ketemu lho .Baik-baik terus ya cah!. Kalimat yang mebuatku terdiam dan berkaca-kaca.
Sepanjang hari, rasanya hampa tak ada Dafa yang membuatku kesal. Aku rindu debatku dengan Dafa.  Sudah  2 minggu aku tak tahu bagaimana kabar Dafa. Dia menghilang dengan sendirinya tanpa memperdulikan aku yang selalu sibuk memikirkannya.
Aku tak tau harus mengetahui keberadaan dia darimana? Yang pasti, aku kesepian Daf. Hari-hariku sangat abu-abu. Tak berwarna dan tak cerah. Dimana sih kamu si misterius????








Tidak ada komentar:

Posting Komentar